Neraka dan Pedih Siksanya

Standar

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.    Latar Belakang

Surah al Mulk disepakati oleh ulama sebagai surat Makkiyah, yakni turun sebelum Nabi berhijrah ke Madinah, bahkan sementara ulama menilai keseluruhan surat yang terdapat dalam Juz 29 al Quran adalah Makkiyah sebagaimana keseluruhan surat yang terdapat dalam Juz ke 28 adalah Madaniyah[1].

Surat ini menurut Sayyid Quthub bertujuan menciptakan pandangan baru – bagi masyarakat muslim – tentang wujud dan hubunganNya dengan Tuhan Pencipta wujud. Gambaran menyeluruh, melampaui alam bumi yang sempit dan ruang dunia yang terbatas menuju alam langit bahkan menuju kehidupan akhirat. Menuju kepada makhluk lain selain manusia baik yang hidup di dunia – seperti jin dan burung – maupun di alam akhirat seperti neraka Jahannam dan penjaga-penjaganya hingga mencapai alam-alam gaib yang berbeda dengan alam nyata yakni berkaitan dengan hati manusia dan persamaannya.[2]

Surat ini juga mengusik dan menggerakkan di dalam jiwa semua gambaran, watak, serta endapan-endapan yang beku, padam dan kolot dari pola pikir jahiliah dengan segala kotorannya. Juga membukakan jendela-jendela di sana-sini, menyapu debu-debu, serta melepaskan perasaan, pikiran, dan pandangan untuk melihat dan memperhatikan alam semesta, lubuk dan relung jiwa, lapisan-lapisan udara, sumber-sumber air dan hal-hal yang tersembunyi dalam kegaiban. Jika demikian, niscaya ia akan melihat di sana ada tangan Allah yang berbuat. Juga akan merasakan gerak alam semesta yang bersumber dari kekuasaan Allah. Dia (jiwa manusia) akan kembali dari perjalanannya disertai perasaan bahwa urusan ini sangat agung, dan lapangannya sangat luas. Kemudian dia berpindah dari bumi yang demikian luas ke alam langit, dan dari dunia nyata kepada akhirat, dan dari yang beku kepada yang bergerak bersama gerak kekuasaan Ilahi, gerak kehidupan, dan gerak makhluk hidup[3].

Jiwa manusia pada zaman jahiliah hampir tidak melampaui alam lahir tempat mereka hidup ini saja, tidak sampai memikirkan perkara gaib dengan segala kandungannya. Jiwa manusia hanya tenggelam dalam kehidupan dunia saja, tertahan dalam sangkar bumi tempat tinggalnya. Maka, surat ini membawa hati dan pandangan mereka untuk meperhatikan alam gaib, langit dan kekuasaan yang tidak telihat oleh mata, tetapi ia mampu berbuat menurut apa yang ia kehendaki dan kapan saja ia berkehendak. Surat ini mengguncangkan di dalam perasaan mereka, bumi yang mereka merasa tenang dan mantap hidup di dalamnya ini[4].

  1. B.     Identifikasi Masalah dan Batasan Masalah

Dari paparan latar belakang di atas, dapat diidentifikasi beberapa masalah yang timbul, yaitu tentang orang islam yang harus mempunyai pandangan baru terhadap wujud dan hubungannya dengan Tuhan, tentang penafsiran ulama terhadap surat al Mulk ayat 7, tentang manusia yang jarang memikirkan akhirat sebagaimana manusia di zaman jahiliah yang hanya terjebak pada kehidupan di bumi dan merasa aman di dalamnya, tentang adanya neraka jahannam dan penjaga-penjaganya sebagai makhluk Allah.

Dari beberapa masalah yang sudah diidentifikasi tersebut, perlu adanya pembatasan masalah agar pembahasan dalam skripsi ini bisa terarah dan dapat dipahami dengan mudah. Oleh karena itu, penelitian ini dibatasi dengan dua masalah, yaitu tentang sifat neraka jahannam dan penfsiran ulama surat al Mulk ayat 7.

 

 

  1. C.    Rumusan Masalah

Dari latar belakang, identifikasi masalah dan batasan masalah di atas perlu adanya fomulasi rumusan masalah agar memudahkan dalam pengimplementasian penelitian sebagaimana berikut:

  1. Bagaimana Penafsiran Ulama terhadap Surat al Mulk ayat 7?
  2. Seperti Apa Sifat Neraka Jahannam?

 

  1. D.    Tujuan Penelitian

Dari rumusan masalah di atas, tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian surat al Mukl ayat 7 ini adalah :

  1. Untuk mendeskripsikan penafsiran ulama terhadap surat al Mulk ayat 7.
  2. Untuk menjelaskan sifat neraka jahannam.

 

  1. E.     Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah untuk menyadarkan manusia tentang adanya hari akhirat dan adanya neraka jahannam yang mempunyai sifat tersendiri, karena setiap ciptaan Allah memiliki ruh sesuai dengan bentuk dan keadaannya.

  1. F.     Tinjauan Pustaka

Tinjauan pustaka yang digunakan dalam penelitian ini terdapat beberapa referensi yang berkaitan dengan penfsiran surat al Mulk dan sifat neraka jahannam.

1)      Al-Imam Abul Fida Isma’il Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir (Sinar Baru al-Gensindo), juz 29

2)      Sayyid Mahmud al-Baghdadi, Ruuhul Ma’ani, (Beirut:Daarul Kitabil Ilmiah, 1994 M)

3)      M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, (Tangerang: Lentera Hati, 2002)

 

 

  1. G.    Sistematika Pembahasan

Untuk lebih memudahkan pembahasan dalam skripsi ini, maka penulisan ini disusun atas empat bab sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang
  2. Identifikasi Masalah dan Batasan Masalah
  3. Rumusan Masalah
  4. Tujuan Penelitian
  5. Manfaat Penelitian
  6. Telaah Pustaka
  7. Sistematika Pembahasan

BAB II MODEL PENYUSUNAN TAFSIR

  1. Metode Tahlili
  2. Metode Ijmali (global)
  3. Metode Muqorin (perbandingan/komparasi)
  4. Metode Maudlu’i (tematik)

BAB III PENAFSIRAN SURAT AL MULK AYAT 7

  1. Surat al-Mulk Ayat 7
  2. Makna Mufradat (kosakata)
  3. Munasabah
  4. Penafsiran Beberapa Ulama

BAB IV PENUTUP

  1. KESIMPULAN
  2. SARAN

 

 

BAB II

MODEL PENYUSUNAN TAFSIR

Model penyusunan tafsir dapat dilihat dari metode yang akan digunakan calon mufassir. Model penyusunan tafsir tersebut ada empat metode, yaitu: metode tahlili, metode ijmali (global), metode muqorin (perbandingan), dan metode maudlu’I (tematik)[5].

  1. A.    Metode Tahlili[6]
    1. Menerangkan hubungan (munasabah), baik antara satu ayat dan ayat lain maupun antar satu surat dan surat lain.
    2. Menjelaskan sebab-sebab turunnya ayat (asbab an Nuzul).
    3. Menganalisis kosakata (mufrodat) dan lafal dari sudut pandang bahasa Arab. Untuk menguatkan pendapatnya, terutama dalam menjelaskan bahasa ayat yang bersangkutan, mufassir kadang-kadang juga mengintip syair-syair yang berkembang sebelum dan pada masanya.
    4. Memaparkan kandungan ayat secara umum dan maksudnya.
    5. Menerangkan unsur-unsur fasahah, bayan, dan i’jaz-nya, bila dianggap perlu. Khususnya, apabila ayat-ayat yang ditafsirkan itu mengandung keindahan balaghah.
    6. Menjelaskan hukum yang dapat ditarik dari ayat yang dibahas, khususnya bila ayat-ayat yang ditafsirkan adalah ayat-ayat ahkam,  yaitu ayat yang berhubungan dengan persoalan hukum.
    7. Menerangkan makna dan maksud syara’ yang terkandung dalam ayat yang bersangkutan. Sebagai sandarannya, mufassir mengambil manfaat dari ayat-ayat lainnya, hadis nabi, pendapat para sahabat dan tabi’in, disamping ijtihad mufassir sendiri. Apabila tafsir ini bercorak at Tafsir al Ilmi (penafsiran dengan ilmu pengetahuan), mufassir biasanya mengutip pendapat para ilmuan sebelumnya, teori-teori ilmiah modern, dan sebagainya.
    8. B.     Metode Ijmali (Global)[7]
      1. Menjelaskan makna ayat-ayat al Quran secara garis besar
      2. Menggunakan ungkapan-ungkapan yang diambil dari al Quran sendiri dengan menambahkan kata atau kalimat penghubung sehingga memudahkan para pembaca untuk memahaminya.
      3. C.    Metode Muqorin (Perbandinagan)[8]
        1. Perbandingan ayat al Quran dengan ayat lain.
        2. Perbandingan ayat al Quran dengan hadis.
        3. Perbandingan penafsir mufassir dengan mufassir lainnya.
        4. D.    Metode Maudlu’i (Tematik)[9]
          1. Menetapkan masalah yang akan dibahas (topik).
          2. Menghimpun ayat yang berkaitan dengan masalah tersebut.
          3. Menyusun runtutan ayat sesuai dengan masa turunnya, disertai pengetahuan tentang asbab an Nuzul-nya.
          4. Memahami korelasi ayat-ayat tersebut dalam suratnya masing-masing.
          5. Menyusun pembahasan dalam kerangka yang sempurna (outline).
          6. Melengkapi pembahasan dengan hadis-hadis yang relevan dengan pokok bahasan.
          7. Mempelajari ayat-ayat tersebut secara keseluruhan dengan jalan menghimpun ayat yang mempunyai pengertian yang sama atau mengompromikan ayat lain am (umum), dan yang khas (khusus), muthlak dan muqayyad (terikat), atau yang pada lahirnya bertemu dalam satu muara, tanpa perbedaan atau pemaksaan.

 

 

BAB III

PENAFSIRAN SURAT AL MULK AYAT 7

 

  1. A.   Surat Al Mulk ayat 7

إِذَا أُلْقُوا فِيهَا سَمِعُوا لَهَا شَهِيقًا وَهِيَ تَفُورُ

Artinya:”Apabila mereka dilemparkan ke dalamnya mereka mendengar suara neraka yang mengerikan, sedang neraka itu menggelegak”.

  1. B.     Makna Mufradat (Kosakata)

(إِذَا أُلْقُوا فِيهَا سَمِعُوا لَهَا شَهِيقًا) apabila mereka dilemparkan ke dalamnya mereka mendengar suara neraka yang mengerikan. Ibnu Jarir mengatakan:” yakni, suara jeritan”. (وَهِيَ تَفُورُ) sedang neraka itu menggelegak. At Tsauri mengatakan:” neraka itu menggodok mereka, seperti sedikit biji-bijian yang dimasak di air yang sangat banyak”[10].

(إِذَا أُلْقُوا فِيهَا) apabila mereka dilemparkan ke dalamnya. Sayyid Mahmud mengatakan dalam tafsir ruuhul ma’ani :” dilemparnya mereka seperti halnya kayu bakar yang dilemparkan ke dalam api yang sangat besar. (سَمِعُوا لَهَا) mereka mendengar suara neraka. Yang dimaksud neraka itu yaitu neraka Jahannam[11]. (شَهِيقًا) mengerikan. Kata syahiq adalah upaya bernafas dengan keras untuk memasukkan udara ke dalam dada. Ini terambil dari kata yang bermakna tinggi. Menarik dan menghembuskan nafas boleh jadi karena merintih kesakitan atau karena kesedihan yang mendalam[12]. Ibnu Jarir Ath Thobari mengatakan bahwa makna syahiq adalah suara yang keluar dari bagian dalam tubuh dengan sangat kuatnya seperti suara keledai[13]. Atau ringkasnya syahiq bermakna teriakan. Maksudnya adalah ketika orang kafir itu dilemparkan ke dalam neraka, neraka pun akan teriak. Lantas bagaimanakah lagi siksaan neraka bagi orang-orang kafir tersebut?![14]. Ibnu Jarir Ath Thobari mengatakan bahwa makna tafuur adalah mendidih[15]. Sufyan Ats Tsauri mengatakan, “Neraka itu mendidih gara-gara orang kafir yang masuk di dalamnya. Gambaran mendidihnya adalah seperti sebuah biji yang jumlahnya sedikit mendidih dalam air yang jumlahnya banyak[16].”

  1. C.    Munasabah

Munasabah ayat ini adalah surat al-Mulk ayat 8 (ayat selanjutnya), yang berbunyi:

تَكَادُ تَمَيَّزُ مِنَ الْغَيْظِ

Artinya:“Hampir-hampir (neraka) itu terpecah-pecah lantaran marah.”

Ibnu ‘Abbas mengatakan bahwa neraka hampir-hampir saja terpecah lantaran marah. Yang memiliki perkataan serupa dengan Ibnu ‘Abbas adalah Adh Dhohak dan Ibnu Zaid rahimahumullah. Allah marah terhadap orang yang bermaksiat padaNya dan murka pada Allah[17].

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah berkata, “Neraka hampir-hampir saja terpecah lantaran marah pada orang-orang kafir. Lantas bagaimana tanggapanmu, apa yang akan dilakukan neraka pada orang-orang kafir tersebut ketika mereka berada dalam neraka?!”[18]

 

 

  1. D.    Penafsiran Beberapa Ulama

Ayat di atas menyatakan bahwa apabila – dan ini pasti terjadi – mereka dilemparkan oleh Malaikat atau siapapun yang ditugaskan Allah dengan penuh kehinaan ke dalamnya, mereka mendengar suaranya neraka itu yang mengerikan karena kerasnya kobaran api, sedang ia yakni neraka itu menggelegak bagaikan mendidih[19].

Munurut Muhammad Abduh Tuaisikal, Jahannam berarti sesuatu yang dasarnya amat dalam (ba’idatul qo’ri), sebagaimana disebutkan dalam Al Qomus[20]. Begitulah keadaan neraka, ia begitu dalam. Abu Hurairah mengatakan,

كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلمإِذْ سَمِعَ وَجْبَةً فَقَالَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم تَدْرُونَ مَا هَذَا. قَالَ قُلْنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ هَذَا حَجَرٌ رُمِىَ بِهِ فِى النَّارِ مُنْذُ سَبْعِينَ خَرِيفًا فَهُوَ يَهْوِى فِى النَّارِ الآنَ حَتَّى انْتَهَى إِلَى قَعْرِهَا.

Artinya:“Kami dulu pernah bersama Rasulullah SAW. Tiba-tiba terdengar suara sesuatu yang jatuh. Nabi lantas bertanya, “Tahukah kalian, apakah itu?” Para sahabat pun menjawab, “Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui.” Nabi kemudian menjelaskan, “Ini adalah batu yang dilemparkan ke dalam neraka sejak 70 tahun yang lalu dan batu tersebut baru sampai di dasar neraka saat ini[21].”

Sayyid Quthb dalam tafsirnya fii zhilalil qur’an mengatakan bahwa jahannam di sini digambarkan sebagai makhluk hidup. Ia menahan marah, hingga napasnya turun naik ngos-ngosan, bergejolak dan menggelegak, dan seluruh sisinya dipenuhi kemarahan. Pernyataan ini secara lahiriah tampak sebagai kiasan dan lukisan terhadap neraka jahannam. Namun sebenarnya ia menetapkan suatu hakikat yang sesungguhnya. Karena, setiap ciptaan Allah memiliki ruh yang sesuai dengan jenis fisiknya, setiap makhluk mengenal tuhannya dan bertasbih dengan memujinya, dan dia jengkel ketika melihat manusia kufur kepada penciptanya[22].

Hakikat ini disebutkan dalam al Quran pada beberapa tempat yang berbeda-beda yang memberikan kesan bahwa ayat-ayat itu menetapkan suatu hakikat yang tersimpan pada setiap sesuatu di alam ini. Terdapat pernyataan yang transparan di dalam al Quran surat al-Isra’ ayat 44 yang berbunyi:

تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالأرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَكِنْ لا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا.

Artinya:” Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memujiNya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun”[23].

Mungkin saja ada yang mengatakan bahwa ayat ini adalah majazi untuk melukiskan ketundukan langit dan bumi kepada peraturan Allah. Akan tetapi, takwil semacam ini tidak diperlukan, bahkan sangat berjauhan dengan makna yang jelas yang langsung dapat ditangkap[24].

Nash ini menunjukkan hakikat. Yaitu, hakikat keimanan semua makhluk kepada khaliknya, hakikat tasybih segala sesuatu dengan memujiNya dan hakikat kegeraman dan kebencian makhluk-makhluk ini terhadap keganjilan manusia ketika mereka berbuat kufur dan menyempal dari sikap semua makhluk ini. Juga hakikat hendak melompatnya makhluk-makhluk ini untuk merekam manusia karena marah dan geram. Pasalnya, dengan kekafirannya itu manusia menodai kemuliaan dan kehormatannya, sehingga ia marah dan geram. Karena kemarahan dan kegeramannya itu seakan-akan ia hendak pecah, sebagaimana neraka jahannam ketika ia menggelegak[25].

Dalam tafsir al-Azhar karangan Hamka dijelaskan bahwa suara gemuruh (gelegak) ialah suara api neraka itu sendiri. Menurut tafsir dari Ibnu Jarir bahwa suara gemuruh itu ialah dari bunyi pekik orang yang sedang menderita azab di dalamnya. “sedang ia menggelegak” (akhir ayat 7). Maka digambarkanlah di sini bahwa neraka itu menggelegak, laksana gelegak air yang sedang dimasak atau minyak yang sedang menggoreng sesuatu. Sufyan Tsauri mengatakan bahwa manusia dalam neraka yang sedang menggelegak itu dibanting kesana kemari, dibalik, diumban, dilempar ke kiri, dilempar ke kanan. Alangkah dahsyatnya penderitaan itu setelah diketahui bahwa manusia yang tengah diazab! Padahal di dunia ini jika sesuatu siksaan tidak tertahankan lagi, selesailah dia bila nyawa telah bercerai dengan badan[26].

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

PENUTUP

 

  1. A.    Kesimpulan

Dari data yang sudah disampaikan dan kemudian dianalisa data, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai jawaban dari rumusan masalah sebagai berikut:

  1. Pada surat al-Mulk ayat 7, menggambarkan bahwa Jahannam berarti sesuatu yang dasarnya amat dalam (ba’idatul qo’ri) sebagaimana disebutkan dalam Al Qomus. Begitulah keadaan neraka, ia begitu dalam. jahannam di sini juga digambarkan sebagai makhluk hidup. Ia menahan marah, hingga napasnya turun naik ngos-ngosan, bergejolak dan menggelegak, dan seluruh sisinya dipenuhi kemarahan. Pernyataan ini secara lahiriah tampak sebagai kiasan dan lukisan terhadap neraka jahannam. Namun sebenarnya ia menetapkan suatu hakikat yang sesungguhnya. Karena, setiap ciptaan Allah memiliki ruh yang sesuai dengan jenis fisiknya, setiap makhluk mengenal tuhannya dan bertasbih dengan memujinya, dan dia jengkel ketika melihat manusia kufur kepada penciptanya.
  2. Sifat neraka yang digambarkan pada surat al-Mulk ayat 7 adalah suara gemuruh (gelegak) yang bererti suara api neraka itu sendiri. Suara gemuruh itu ialah dari bunyi pekik orang yang sedang menderita azab di dalamnya. “sedang ia menggelegak” (akhir ayat 7). Maka digambarkanlah di sini bahwa neraka itu menggelegak, laksana gelegak air yang sedang dimasak atau minyak yang sedang menggoreng sesuatu. Sufyan Tsauri mengatakan bahwa manusia dalam neraka yang sedang menggelegak itu dibanting kesana kemari, dibalik, diumban, dilempar ke kiri, dilempar ke kanan. Alangkah dahsyatnya penderitaan itu setelah diketahui bahwa manusia yang tengah diazab! Padahal di dunia ini jika sesuatu siksaan tidak tertahankan lagi, selesailah dia bila nyawa telah bercerai dengan badan
  3. B.     Saran

Dengan terselesaikannya penulisan skripsi ini, berharap agar skripsi ini dapat dikaji ulang sebagai bahan penelitian lebih lanjut tentang penafsiran ayat-ayat al Quran terutama yang berkaitan dengan judul skripsi ini.

Selain itu penelitian ini diharapkan dapat memberikan sebuah dorongan kepada manusia unutk selalu beriman kepada Allah dan hari akhir terutama tentang adanya neraka. Penelitian ini juga diharapkan dapat menambah pengetahuan manusia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Al Qomus Al Muhith, Al Fairuz Abadiy, Mawqi’ Al Waroq.

al-Baghdadi, Sayyid Mahmud. 1994 M. Ruuhul Ma’ani. Beirut: Daarul Kitabil Ilmiah.

Al-Imam Abul Fida Isma’il Ibnu Katsir. Tafsir Ibnu Katsir. Sinar Baru al-Gensindo. juz 29

Anwar, Rosihon. 2005. ilmu Tafsir. Bandung: Pustaka Setia.

As Sa’di , ‘Abdurrahman bin Nashir. 1423 H. Taisir Al Karimir Rahman fii Tafsir Kalamil Mannan. Muassasah Ar Risalah. cetakan pertama.

Hamka. 2002. tafsir al-azhar juz 29, Jakarta: Pustaka Panjimas.

Shahih Muslim, Tahqiq: Muhammad Fuad Abdul Baqi, Dar Ihya’ At Turots Beirut.

Shihab, M. Quraish. 2002. Tafsir al-Misbah. Tangerang: Lentera Hati.

Shihab, Quraish, dalam Azumardi Azra, Sejarah Ulum al Quran. 1999.Jakarta: Pustaka firdaus.

Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, Mawsu’ah Qurtubah, cetakan pertama, tahun 1421 H.

Tafsir Ath Thobari (Jami’ Al Bayan min Ta’wil Ayil Qur’an), Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath Thobari, Tahqiq: Abdullah bin Abdil Muhsin At Turki, terbitan Hijr.


[1] Quraish Shihab, Tafsir al Mishbah, (Tangerang: Lentera Hati, 2007) hal 339

[2] Ibid hal 340

[3] Sayyid Quthb, Tafsir Fi Zhilalil Qur’an, (Jakarta: Gema Insani, 2004) hal 221

[4] Ibid hal 222

[5] Rosihon Anwar, ilmu Tafsir, (bandung: Pustaka Setia, 2005) hal 185

[6] Quraish Shihab, dalam Azumardi Azra, Sejarah Ulum al Quran, (Jakarta: Pustaka firdaus, 1999) hal 173-174

[7] Rosihon Anwar, ilmu Tafsir, (bandung: Pustaka Setia, 2005) hal 186

[8] Ibid

[9] Ibid 187

[10] Al-Imam Abul Fida Isma’il Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir (Sinar Baru al-Gensindo), juz 29, hal 6

[11] Sayyid Mahmud al-Baghdadi, Ruuhul Ma’ani, (Beirut:Daarul Kitabil Ilmiah, 1994 M), hal 11

[12] M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, (Tangerang: Lentera Hati, 2002), hal 351

[13] Tafsir Ath Thobari, 23/123.

[14] Faedah dari Taisir Al Karimir Rahman, hal. 876.

[15] Ibid. 124

[16] Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 14/73

[17] Ibid, 23/124-125

[18] Ibid.

[19] M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, (Tangerang: Lentera Hati, 2002), hal 350

[20] Al Qomus Al Muhith, 3/205

[21] HR. Muslim no. 2844.

[22] Sayyid Quthb, fii zhilalil qur’an, (Jakarta: Gema Insani, 2004), hal 233

[23] Ibid

[24] Sayyid Quthb, fii zhilalil qur’an, (Jakarta: Gema Insani, 2004), hal 233

[25] Ibid. hal 234

[26] Hamka, Tafsir Al Azhar, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 2002), hal 16

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s