Tafsir Tentang Akhirat

Standar

PEMBAHASAN 1

  1. Ayat

Q.S At-Takatsur : 1-8

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ۝حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرُ۝ كَلا سَوْفَ تَعْلَمُونَ ۝ثُمَّ كَلا سَوْفَ تَعْلَمُونَ۝ كَلا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ۝لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ۝ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ۝ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ۝

  1. Terjemah
    1. Bermegah-megahan telah melalaikan kamu,
    2. Sampai kamu masuk ke dalam kubur
    3. Sekali-kali tidak! Kelak kamu akan mengetahui  (akibat perbuatanmu itu)
    4. Kemudian sekali-kali tidak! Kelak kamu akan mengetahui
    5. Sekali-kali tidak! Sekiranya kamu mengetahui dengan pasti
    6. Niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka jahim
    7. Kemudian kamu benar-benar akan melihatnya dengan mata kepala sendiri
    8. Kemudian kamu benar-benar akan ditanya pada hari tentang kenikmatan (yang megah di dunia itu)

 

  1. Mufradat

أَلْهَاكُمُ          = melalaikan kamu semua

التَّكَاثُرُ         = bermegah-megahan

زُرْتُمُ           = kamu masuk

لَتَرَوُنَّ          = benar-benar melihat

عَيْنَ الْيَقِينِ     = mata kepala sendiri

 

 

 

  1. Sabab Nuzul

Mengenai sebab turunnya ayat ini, ada riwayat yang menceritakan bahwa Imam Ibnu Abu Hatim mengetengahkan sebuah hadis melalui Ibnu Buraidah yang menceritakan, bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan dua kabilah dari kalangan Anshar, yaitu Bani Haritsah dan Bani Harits.

Kedua kabilah itu saling bermegah-megahan dan saling bangga-membanggakan apa yang mereka miliki. Salah satu di antara kedua kabilah berkata, “Di antara kalian terdapat orang-orang yang seperti si Polan dan si Polan.” Demikian pula kabilah lainnya mengatakan hal yang sama. Mereka tidak mau kalah kekayaan dengan kabilah yang lain.

Akhirnya mereka mengatakan, “Marilah kita semua pergi ke kuburan”, lalu salah satu kabilah mengatakan, “Di antara kalian terdapat orang-orang yang seperti si Polan dan si Polan”, mereka mengatakan demikian seraya mengisyaratkan kepada kuburan itu. Demikian pula kabilah lainnya mengatakan hal yang sama terhadap lawannya. Sehingga kemudian Allah menurunkan firman-Nya, “Bermegah-megahan telah melalaikan kalian, sampai kalian masuk ke dalam kubur.”

Berbeda dengan Imam Ibnu Jarir. Beliau mengetengahkan sebuah hadis yang bersumber dari Ali r.a. yang menceritakan, pada asal mulanya kami merasa ragu tentang siksa kubur, sehingga turunlah ayat ini yang mulai dari ayat pertama, “Bermegah-megahan telah melalaikan kalian.” (Q.S. At Takaatsur : 1) sampai dengan firman-Nya; “..dan janganlah begitu, kelak kalian akan mengetahui.” (Q.S. At Takaatsur : 4).

 

  1.  Tafsir Ayat

Ibnu Kathir berkata: Allah SWT menegaskan bahwa cinta dunia, kenikmatan yang ada padanya dan kemegahannya telah menyibukkan kalian dari berusaha menggapai bekal di akhirat. Dunia ini begitu melalaikan kalian sehingga maut menjemput kalian lalu engkau berada dalam liang kubur dan menjadi penghuninya.

Dari Mutharrif dari bapanya dari Abdullah bin Syikhir ra berkata: Aku mendatangi Nabi Muhammad SAW dan baginda sedang membaca:

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ ۝

Baginda berkata: Anak Adam berkata: Hartaku, hartaku, maka Allah berkata kepadanya: Wahai anak Adam adakah engkau memiliki dari hartamu melainkan apa yang telah engkau makan lalu engkau habiskan, atau apa yang telah engkau pakai lalu ia menjadi rosak dan apa yang telah engkau sedekahkan lalu engkau berlalu pergi.”

Dan firman Allah yang mengatakan:

حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ۝

Ibnul Qoyyim berkata: Allah swt telah memberitahu bahawa ahli dunia sentiasa sibuk (mencari harta benda dan kekayaan duniawi), serta melalaikan diri dari Allah dan urusan hari Akhirat, sehinggalah datangnya kematian kepada mereka, lalu mereka menziarahi kuburan.

Tujuan dari menziarahi kubur itu bukan kematian, sebagai memberi peringatan bahawa mereka tidak akan kekal selama-lamanya di dalam kubur. Mereka berada dalam posisi orang yang berziarah- datang mengunjungi satu tempat kemudian meninggalkannya, sepertimana yang berlaku di dunia.. tempat tinggal yang kekal adalah antara syurga dan neraka.

Dan firman Allah swt yang mengatakan:

كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ ۝ ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ۝

Maksudnya adalah janganlah urusan memperbanyak harta tersebut melalaikanmu dari mentaati Allah, dan kalian pasti akan mengetahui akibat kelalaian kalian akibat berlumba-lumba dalam mengumpulkan dunia. Kalimat yang sama diulang-ulangi untuk memperkuatkan penegasan.

Dan firman Allah swt yang mengatakan:

كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ۝

Maksudanya seandainya engkau mengetahui apa yang akan terjadi di hadapan kalian dengan pengetahuan yang terhunjam di dalam akal dan hati kalian nescaya tidak mungkin bagi kalian dilalaikan oleh bermegah-megah  mengejar dunia ini. Justru kalian akan berlumba-lumba dalam beramal soleh, namun karana kalian tidak mengetahui dengan pengetahuan yang sebenarnya akhirnya kalian terjerumus ke dalam keadaan kalian sekarang ini.

Firman Allah swt:

لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ ۝ ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ۝

Ini adalah sumpah dari Allah Ta’ala bahwa para hambaNya baik yang beriman dan yang kafir akan menyaksikan api neraka dengan mata kepala mereka sendiri, kemudian Allah mempertegaskan realiti tersebut dengan menyatakan berita tersebut pasti dan mesti terjadi, dan mereka akan melihat neraka dengan sebenarnya sehingga saat itulah mereka benar-benar yakin dengannya dan tidak meragukannya lagi.Akan tetapi Allah akan menyelamatkan orang-orang yang beriman dari kepdihan siksanya dan Allah swt menjadikan orang-orng beriman melihat neraka tersebut agar mereka mengetahui kurniaan Allah yang telah menyelamatkan mereka dari azab nereaka.

Kemudian firman Allah yang mengatakan:

ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ ۝

Maksudnya adalah Allah akan bertanya kepada kalian pada hari kiamat tentang nikmat-nikmat yang telah dikaruniakannya kepada  kalian, seperti rasa aman, kesehatan, diberikan pendengaran dan penglihatan serta afiat dan apa yang makan oleh manusia juga apa yang diminumnya, apakah kalian telah mensyukurinya dan menunaikan hak Allah padanya, dan tidak menjadikan kenimatan tersebut sebagai sarana untuk bermaksiat kepada  Allah atau kalian  terpedaya dengan nikmat tersebut dan tidak mensyukurinya sehingga Allah mengazab kalian dengannya.

 

  1. Munasabah Ayat

Pada ayat yang pertama dijelaskan betapa kemegahan dapat melalaikan manusia pada urusan beribadah kepada Allah. Hal itu terjadi hingga yang bersangkutan meninggal (masuk ke dalam kubur). Ibnu Katsir berkata, “Allah SWT menegaskan bahwa cinta dunia, kenikmatan yang ada padanya dan kemegahannya telah menyibukkan kalian dari berusaha menggapai bekal di akhirat. Dunia itu begitu melalaikan kalian sehingga maut menjemput kalian lalu engkau berada dalam liang kubur dan menjadi penghuninya”[1].

Pada ayat selanjutnya terdapat redaksi “kelak kamu akan mengetahui”. Hal ini mengindikasikan bahwa setelah mati kita nantinya kan diperlihatkan kembali apa yang kita lakukan selama di dunia.

Masih ada perdebatan mengenai kebangkitan manusia setelah mati nanti, apakah memang jasad kita nantinya benar-benar dibangkitkan lagi, ataukah hanya ruhnya saja? Bahkan kaum kafir dulu menyebut ini (kebangkitan setelah mati) hanya sebagai tipuan sihir saja. Sebagaimana yang terdapat pada Alquran,

وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلا وَلَئِنْ قُلْتَ إِنَّكُمْ مَبْعُوثُونَ مِنْ بَعْدِ الْمَوْتِ لَيَقُولَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ هَذَا إِلا سِحْرٌ مُبِينٌ۝[2]

“Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah ‘Arsy-Nya di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya, dan jika kamu berkata (kepada penduduk Makkah): “Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan sesudah mati”, maka niscaya orang-orang kafir itu akan berkata: “Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata.”

Lafadz “’Arsy-Nya adalah di atas air” menurut mujahid adalah maksudnya sebelum Allah menciptakan segala sesuatu.[3]

Pada ayat lain juga disebutkan betapa kerasnya kaum kafir menyangkal tentang adanya kebangkitan ini, seperti yang tertera dalam Alquran,

قَالُوا أَئِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا وَعِظَامًا أَئِنَّا لَمَبْعُوثُونَ۝ لَقَدْ وُعِدْنَا نَحْنُ وَآبَاؤُنَا هَذَا مِنْ قَبْلُ إِنْ هَذَا إِلا أَسَاطِيرُ الأوَّلِينَ ۝[4]

“Mereka berkata: apakah betul, apabila kami telah mati dan kami telah menjadi tulang-belulang, apakah sesungguhnya kami benar-benar akan dibangkitkan?(82) Sesungguhnya kami dan bapak-bapak kami telah diberi ancaman terlebih dahulu, ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu kala(83)”

Padahal pada kelanjutan Q.S At-Takatsur telah ditegaskan berkali-kali bahwa nantinya kita semua akan benar-benar diperlihatkan segala yang kita perbuat dan akan menerima balasannya, entah itu di neraka atau di surga.

 

 

PEMBAHASAN 2

  1. Ayat

Q.S. Al-Waqi’ah ayat 1-10

إِذَا وَقَعَتِ الْوَاقِعَةُ۝ لَيْسَ لِوَقْعَتِهَا كَاذِبَةٌ۝ خَافِضَةٌ رَافِعَةٌ ۝ إِذَا رُجَّتِ الأرْضُ رَجًّا۝ وَبُسَّتِ الْجِبَالُ بَسًّا۝

 فَكَانَتْ هَبَاءً مُنْبَثًّا۝ وَكُنْتُمْ أَزْوَاجًا ثَلاثَةً۝ فَأَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ مَا أَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ۝ وَأَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ مَا أَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ۝ وَالسَّابِقُونَ السَّابِقُونَ۝

  1. Terjemah
    1. Apabila terjadi Kiamat
    2. Terjadinya tidak dapat didustakan (disangkal)
    3. (Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain)
    4. Apabila bumi digoncangkan sedahsyat-dahsyatnya,
    5. Dan gunung-gunung dihancurkanluluhkan sehancur-hancurnya,
    6. Maka jadilah ia debu yang beterbangan,
    7. Dan kamu menjadi tiga golongan,
    8. Yaitu golongan kanan, alangkah mulianya golongan kanan itu,
    9. Dan golongan kiri, alangkah sengsaranya golongan kiri itu,
    10. Dan orang-orang yang paling dahulu (beriman) merekalah yang paling dahulu (masuk surga)

 

  1. Mufradat

الْوَاقِعَةُ                = Hari Kiamat

كَاذِبَةٌ                  = didustakan, dipungkiri, disangkal

خَافِضَةٌ               = merendahkan

رَافِعَةٌ                 = meninggikan

رُجَّتِ                 = digoyangkan

هَبَاءً                   = debu

أَزْوَاجًا                = golongan

الْمَيْمَنَةِ                = golongan kanan

الْمَشْأَمَةِ               = golongan kiri

وَالسَّابِقُونَ            = orang yang terlebih dahulu iman

 

  1. Sabab Nuzul

Tidak ditemukan sabab nuzul pada pembahasan ini.

 

  1. Tafsir ayat

Ayat pertama dan kedua menerangkan bahwa apabila terjadi Hari Kiamat, maka kejadian itu tidak dapat didustakan dan juga tidak dapat diragukan. Apabila terjadi atau datang Hari Kiamat itu, tidak seorang pun dapat mendustakannya atau mengingkarinya dan nyata dilihat oleh setiap orang. Tatkala di dunia, banyak benar manusia yang mendustakannya dan mengingkarinya karena belum merasakan azab sengsara yang telah diderita oleh orang-orang yang telah disiksa itu.

Ayat selanjutnya menjelaskan bahwa kejadian itu akan merendahkan satu golongan dan meninggikan golongan yang lain, demikian kata Ibnu Abbas. Karena kejadian yang besar pengaruhnya membawa perubahan yang besar pula. Kemudian diterangkan-Nya bahwa Hari Kiamat itu menurunkan derajat golongan yang satu dan meninggikan golongan yang lain. Tatkala itu, ada gempa yang menghancurkan semua yang ada di atasnya, gunung-gunung dan bangunan-bangunan hancur lebur seperti debu yang beterbangan di udara. Manusia ketika itu terbagi atas tiga golongan yaitu golongan kanan (Ashabul Yamin) , golongan kiri (Ashabusysyimal) , dan golongan orang terdahulu beriman (Assabiqun) .

Ayat selanjutnya menjelaskan bahwa pada Hari Kiamat itu, nanti akan timbul gempa bumi yang sangat dahsyat dengan guncangan-guncangan yang hebat di segenap pelosok bumi, menghancurkan benteng-benteng dan gunung-gunung, menumbangkan rumah-rumah dan bangunan-bangunan, serta apa saja yang terdapat di permukaan bumi.
Dalam ayat yang lain yang sama artinya Allah berfirman:

إذا زلزلت الأرض زلزالها۝[5]

“Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan (yang dahsyat).”

dan firman Nya:

يا أيها الناس اتقوا ربكم إن زلزلة الساعة شيء عظيم۝[6]

“Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu; sesungguhnya kegoncangan Hari Kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat).”

Ayat selanjutnya mengungkapkan bahwa pada hari ini gunung-gunung dihancur luluhkam sehancur-hancurnya menjadi tumpukan tanah yang bercerai berai setelah ia tegak menjulang tinggi, menjadi debu yang beterbangan seperti daun kering yang diterbangkan angin. Ringkasnya, gunung-gunung akan hilang dari tempatnya.

Ayat selanjutnya menjelaskan bahwa manusia pada waktu itu terdiri atas golongam-golongan, yaitu-golongan kanan, golongan kiri, dan golongan orang-orang yang paling dahulu beriman.

Ayat selanjutnya menjelaskan bahwa “Golongan kanan” adalah orang-orang yang menerima buku-buku catatan amal mereka dengan tangan kanan yang menunjukkan bahwa mereka adalah ahli surga. Tentulah keadaan mereka sangat baik dan sangat menyenangkan. Dan “Golongan Kiri” ialah orang-orang yang menerima buku catatan amal mereka dengan tangan kiri yang menunjukkan bahwa mereka adalah ahli neraka dan akan mendapat siksa dan hukuman yang sangat menyedihkan.
Berkenaan dengan ayat ini Muaz bin Jabal meriwayatkan:

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم تلا هذه الآية ثم قبض بيده قبضتين وقال: هذه في الجنة ولا أبالي وهذه في النار ولا أبالي

“Nabi besar Muhammad saw, tatkala membaca ayat di atas, beliau menggenggam ke dua belah tangannya lalu berkata, “Ini (yang digenggam dengan tangan kanan beliau) adalah ahli surga dan tidak perlu aku memperhatikan (yang digenggam dengan tangan kiri beliau) ini adalah ahli neraka dan tidak perlu aku memperhatikan”.
(H.R. Ahmad dari Mu’az bin Jabal)

Ayat selanjutnya menjelaskan bahwa orang-orang yang paling dahulu beriman kepada Allah SWT, tidak asing lagi bagi kita pribadi dan kebesarannya serta perbuatan-perbuatan mereka mengagumkan. Dapat pula diartikan bahwa orang orang yang paling dahulu mematuhi perintah Allah, mereka pulalah yang paling dahulu menerima rahmat Allah.

Barang siapa yang terdahulu membuat kebaikan di dunia ini, maka ia adalah orang yang terdahulu pula mendapat ganjaran di akhirat nanti. Ayat ini menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “Assabiqun”, ialah mereka yang disebut dalam hadis Siti Aisyah sebagai berikut:

عن عائشة رضي الله عنها: أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: أتدرون من السابقون إلى ظل الله يوم القيامة؟ قالوا: الله ورسوله أعلم قال: الذين إذا أُعْطُوا الحق قبلوه وإذا سُئِلُوه بذلوه وحكموا للناس كحكمهم لأنفسهم

“Nabi besar Muhammad saw telah bersabda: “Apakah kamu sekalian tahu siapa yang paling dahulu mendapat rahmat dari Allah pada Hari Kiamat nanti?” Mereka (para sahabat) berkata: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”. Rasulullah bersabda: “Mereka itu adalah orang yang apabila diberi haknya lalu menerimanya dan apabila diminta orang diberikannya. Apabila menjatuhkan hukuman terhadap orang lain sama seperti mereka menjatuhkan hukuman terhadap diri mereka sendiri”.
(H.R. Ahmad)

Di samping itu ada pendapat-pendapat lain di antaranya beriman paling dahulu kepada Allah, paling dahulu mematuhi perintah Allah dan lain-lain.

 

  1. Munasabah Ayat

Pada surat ini diawali dengan datangnya Hari Kiamat. Kembali lagi ditegaskan bahwa kehidupan di dunia ini tidaklah kekal dan pasti akan kehancuran yang ditandai dengan datangnya Hari Kiamat. Hari Kiamat tidak dapat dihindari dan tidak dapat diduga kapan terjadi.

Dengan datangnya Hari Kiamat tersebut, maka akan terlihat siapa yang berbuat baik selama di dunia (dengan arti ia ditinggikan sebab perbuatan baiknya) dan siapa yang berbuat jahat (direndahkan karena perbuatan jahatnya).

Pada ayat-ayat selanjutnya digambarkan sedikit mengenai peristiwa Hari Kiamat. Bagaimana bumi digoyang-goyangkan dengan kekuatan yang paling dahsyat dan gunung-gunung yang dilumat habis.

Selanjutkan setelah itu akan terjadi kebangkitan, menyebabkan manusia di alalm akhirat nanti terbagi menjadi tiga golongan. Yang pertama adalah golongan kanan, artinya adalah orang tersebut mempunyai catatan amal yang bagus selama di dunia sehingga saat ia menerima ‘buku rapor’ di akhirat kelak ia menerimanya dengan tangan kanan. Balasan baginya adalah surga.

Selanjutnya adalah golongan kiri. Yaitu golongan yang mempunyai catatan amal perbuatan yang buruk sehingga ia menerima transkip perbuatannya selama di dunia dengan tangan kiri. Balasan bagi golongan kiri adalah kesengsaraan (neraka). Dan yang terakhir adalah orang-orang terdahulu yang beriman kepada Allah.

 

 

PEMBAHASAN 3

  1. Ayat

الْقَارِعَةُ ۝  مَا الْقَارِعَةُ۝ وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْقَارِعَةُ۝يَوْمَ يَكُونُ النَّاسُ كَالْفَرَاشِ الْمَبْثُوثِ۝  وَتَكُونُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِ الْمَنْفُوشِ۝ فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ۝ فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ۝ وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ۝ فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ۝ وَمَا أَدْرَاكَ مَا هِيَهْ۝ نَارٌ حَامِيَةٌ۝

  1. Terjemah
    1. Hari Kiamat
    2. Apakah Hari Kiamat itu?
    3. Dan tahukah kamu apakah Hari Kiamat itu?
    4. Pada hari itu manusia seperti laron yang beterbangan
    5. Dan gunung-gunung seperti bulu-bulu yang dihambur-hamburkan
    6. Maka adapun orang yang berat timbangan (kebaikan)nya
    7. Maka ia berada dalam kehidupan yang memuaskan
    8. Dan adapun orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya
    9. Maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah
    10. Dan tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu?
    11. (Yaitu) api yang sangat panas.

 

  1. Mufradat

الْقَارِعَةُ        = Hari Kiamat

الْفَرَاشِ         = laron

الْمَبْثُوثِ        = beterbangan

الْعِهْنِ           = bulu-bulu

الْمَنْفُوشِ      = berhamburan

ثَقُلَتْ            = berat

مَوَازِينُ        = timbangan

عِيشَةٍ          = berada

رَاضِيَةٍ        = hidup yang memuaskan

خَفَّتْ           = ringan

فَأُمُّهُ            = tempat kembalinya

هَاوِيَةٌ          = neraka Hawiyah

 

  1. Sabab Nuzul

Tidak ditemukan sabab nuzul dalam pembahasan ini.

 

  1. Tafsir Ayat

Dalam ayat pertama Allah menyebutkan kata “Al Qari’ah”, yaitu satu nama dari beberapa nama Hari Kiamat, seperti Al Haqqah, As Sakhkhah, At Tammmah dan Al Gasyiah. Diberi nama Hari Kiamat itu dengan Al Qari’ah karena ia mengetuk hati setiap orang akan kedahsyatannya, sebagaimana diberi nama suatu bencana hebat dengan Qari’ah. Dalam ayat yang sama artinya Allah berfirman:

ولا يزال الذين كفروا تصيبهم بما صنعوا قارعة۝[7]

“Dan orang-orang kafir senantiasa ditimpa bencana disebabkan perbuatan mereka sendiri.”

Maksudnya mereka ditimpa malapetaka hebat yang mengetuk hati mereka dan menyakiti tubuh mereka, sehingga mereka mengeluh karenanya.

Oleh karena sangat sulit mengetahui hakikat Al Qari’ah, maka dalam ayat keempat ini Allah menjelaskan waktu datangnya Al Qari’ah dan keadaan manusia pada waktu itu, yaitu bagaikan anai-anai yang berterbangan di sekeliling lampu pada malam hari; diserupakan dengan anai-anai dalam keadaan mereka kebingungan tidak menentu arah tujuannya.
Maksudnya bahwa manusia pada hari yang dahsyat itu bertebaran di mana-mana, bingung, tidak tahu ke mana akan dituju dan apa yang akan dikerjakan dan untuk apa mereka dikumpulkan di sana, tidak ubahnya seperti anai-anai yang tidak berketentuan arahnya.
Dalam ayat lain yang sama maksudnya Allah berfirman:

كانهم جراد منتشر۝[8]

“Seakan-akan mereka belalang yang berterbangan.”

Dalam ayat kelima Allah mengungkapkan bahwa gunung-gunung yang telah hancur itu beterbangan dari tempatnya seperti bulu yang halus yang diterbangkan angin, bagaimana pula keadaan manusia yang mempunyai tubuh yang lemah itu bila mengalami Al Qari’ah itu.

Banyak terdapat dalam Alquran ayat-ayat tentang keadaan gunung-gunung pada Hari Kiamat, di antaranya Allah berfirman:

وترى الجبال تحسبها جامدة وهي تمرمر السحاب۝[9]

Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan.”

dan firman-Nya:

وكانت الجبال كثيبا مهيلا۝[10]

“Dan jadilah gunung-gunung itu tumpukan-tumpukan pasir yang beterbangan.”

Dan firman-Nya:

وسيرت الجبال فكانت سرابا۝[11]

“Dan dijalankanlah gunung-gunung maka menjadi fatamorganalah ia.”

Semua keterangan tersebut untuk menjelaskan bahwa gunung-gunung yang besar dan kuat seharusnya tetap tak dapat digerakkan, tetapi Al Qari’ah dapat menghancurkannya, apalagi manusia makhluk yang lemah.

Dalam ayat 6-7, Allah menjelaskan ganjaran bagi orang-orang yang banyak melakukan amal kebaikan, yaitu bila amal orang-orang yang saleh itu ditimbang dan timbangannya berat karena banyaknya mengerjakan amal-amal saleh. Ganjaran bagi orang-orang ini adalah kesenangan yang abadi di surga. Mereka hidup di dalamnya penuh dengan kebahagiaan, kenikmatan dan kepuasan. Kita wajib mempercayai adanya mizan (neraca) yang tersebut pada ayat ini dan dalam firman-Nya:

ونضع الموازين القسط ليوم القيامة۝[12]

“Kami akan memasang timbangan yang tepat pada Hari Kiamat.”

Dalam ayat-ayat selanjutnya, Ia menyatakan pula nasib orang-orang jahat yaitu bila amal orang-orang jahat itu ditimbang dan timbangannya itu ringan karena banyak mengerjakan kejahatan dan sedikit mengerjakan kebaikan di dunia maka mereka akan ditempatkan dalam neraka Hawiyah tempat penyiksaan orang-orang jahat, tempat hidup sengsara; suatu tempat yang mereka dijerumuskan ke dalamnya.

 

  1. Munasabah Ayat

Pada ayat pertama tersebut sebuah nama julukan lain dari hari Kiamat, yaitu Al-Qari’ah. Hal itu terus disebutkan berulang-ulang hingga ayat ketiga. Baru pada ayat keempat dijelaskan bagaimana hari Kiamat nantinya. Dijelaskan seperti apa keadaan dunia ini.

Ayat keenam dan ketujuh membahas bagaimana orang yang berbuat baik mendapatkan balasan atas apa yang ia kerjakan selama hidupnya. Sedangkan ayat kedelapan dan seterusnya membahas bagaimana orang yang berbuat buruk mendapatkan balasan atas apa yang ia kerjakan selama hidupnya, yaitu dimasukkan ke neraka Hawiyah.


[2] Al-Qur’an dan Terjemahnya, Q.S Huud : 7

[3] Al-Imam Abdul Fida Isma’il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi, Tafsir Ibnu Katsir, (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2004)

[4] Al-Qur’an dan Terjemahnya, Q.S Al-Mu’minuun : 82-83

[5] Al-Qur’an dan Terjemahnya, Q.S Al-Zalzalah : 1

[6] Al-Qur’an dan Terjemahnya, Q.S Al-Hijr : 1

[7] Al-Qur’an dan Terjemahnya, Q.S. Ar-Ra’d : 31

[8] Al-Qur’an dan Terjemahnya, Q.S. Al-Qamar : 7

[9] Al-Qur’an dan Terjemahnya, Q.S An-Naml : 99

[10] Al-Qur’an dan Terjemahnya, Q.S Al-Muzammil : 14

[11] Al-Qur’an dan Terjemahnya, Q.S An-Naba’ : 20

[12] Al-Qur’an dan Terjemahnya, Q.S Al-Anbiya’ : 47

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s