KAIDAH-KAIDAH AL-ASMA’ AL-HUSNA DALAM ALQURAN

Standar

BAB II

KAIDAH-KAIDAH AL-ASMA’ AL-HUSNA

  1. A.    Pengertian Al-Asma’ Al-Husna

Dalam islam  Al-Asma’ Al-Husna adalah nama-nama Allah yang indah dan baik. Asma berarti nama dan husna berati yang baik atau yang indah jadi Al-Asma’ Al-Husna adalah nama-nama milik Allah yang baik lagi indah. Telah banyak para ulama yang membahas dan menafsirkan nama-nama ini, karena nama-nama Allah adalah alamat kepada Dzat yang mesti diibadahi dengan sebenarnya. Meskipun timbul perbedaan pendapat tentang arti, makna, dan penafsirannya akan tetapi yang jelas adalah tidak bisa musyrik dalam mempergunakan atau menyebut Al-Asma’ Al-Husna.

Secara etimologi, Al-Asma’ Al-Husna adalah nama-nama, sebutan, gelar Allah yang baik dan agung sesuai dengan sifat-sifat-Nya. Nama-nama yang agung dan mulia itu merupakan suatu kesatuan yang menyatu dalam kebesaran dan kehebatan milik Allah. Para ulama berpendapat bahwa kebenaran adalah konsistensi dengan kebenaran yang lain. Dengan cara ini, umat muslim tidak akan mudah menulis “Allah adalah …” , karena tidak ada satu hal pun yang dapat disetarakan dengan Allah, akan tetapi harus dapat mengerti dengan hati dan keterangan Al-Qur’an dan Hadis tentang Allah.[1]

  1. B.     Beberapa Kaidah dalam Mengenal Al-Asma` Al-Husna

Ada empat ayat dalam Al-Qur`an Al-Karim yang mengatur bahwa seluruh asma` (nama-nama) Allah ‘Azza Dzikruhu adalah maha husna . Berikut ayat-ayat tersebut:

ولله الأسماء الحسنى فادعوه بها وذروا الذين يلحدون في أسمائه سيجزون ما كانوا يعملون.

Artinya: “Hanya milik Allah-lah, Al-Asma` Al-Husna maka bermohonlah kepada-Nya dengan (menyebut Al-Asma` Al-Husna ) itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap segala sesuatu yang telah mereka kerjakan. ” [ Al-A’ra f: 180 ]

قل ادعوا الله أو ادعوا الرحمن أيا ما تدعوا فله الأسماء الحسنى ….

Artinya: “Katakanlah, ‘Serulah Allah atau serulah Al-Rahman dengan nama apa saja yang kamu seru, Dia memiliki Al-Asma` Al-Husna, ‘…. ” [ Al-lsra`: 110 ]

الله لا إله إلا هو له الأسماء الحسنى.

Artinya: “(Dia) Allah, Tidak ada sesembahan (yang hak) kecuali Dia. Dia memiliki Al-Asma` Al-Husna. ” [Thaha : 8 ]

هو الله الخالق البارئ المصور له الأسماء الحسنى يسبح له ما في السماوات والأرض وهو العزيز الحكيم.

Artinya: “Dia-lah (Allah) Al-Khaliq ‘Yang Maha Menciptakan’, Al-Bari` ‘Yang Maha Mengadakan’, Al-Mushawwir ‘Yang Maha Membentuk Rupa’. Dia memiliki Al-Asma `al-Husn‘nama-nama yang paling baik’. Segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi bertasbih kepada-Nya. Dan Dia-lah Al-‘Aziz ‘Yang Maha Perkasa’ lagi Al-Hakim ‘Maha Bijaksana’. ” [ Al-Hasyr: 24 ]

Dalam mencermati ayat-ayat di atas, akan terdapat sejumlah kaidah penting yang merupakan dasar pijakan dalam penetapan Al-Asma` Al-Husna. Dalam menguraikan kaidah-kaidah tersebut dapat dijabarkan konten global dari empat ayat di atas:[2]

Konten pertama : menunjukkan bahwa Al-Asma` Al-Husna itu semata hanyalah milik Allah Jalla Sya’nuhu.

Konten kedua : menegaskan bahwa nama-nama Allah adalah maha husna , yang paling baik, pada puncak yang terbaik atau tidak ada lagi yang lebih baik darinya.

  1. a.      Konten Pertama

Dari konten pertama, tersimpul beberapa kaidah dasar yang penting untuk diingat:

Kaidah Pertama: Penetapan Al-Asma` Al-Husna  adalah Tauqifiyyah ‘Terbatas pada dalil dari Al-Qur`an’.

Karena Al-Asma` Al-Husna hanyalah milik Allah ‘Azza wa Jalla, penetapan sebuah nama untuk Allah harus datang dari sisi Allah ‘Azza Dzikruhu. Tidak ada jalan dalam menetapkan suatu nama untuk Allah, kecuali dari Al-Qur`an yang berasal dari sisi-Nya atau dari hadis Rasulullah, yang merupakan penyampai dari sisi Allah.

Ini adalah etika yang harus dijunjung tinggi oleh setiap muslim dan muslimah. Janganlah menamakan Allah dengan nama-nama yang tidak bersumber dari Al-Qur `an dan Sunnah. Allah Subh a nahu wa Ta ‘ a ​​l a telah menegaskan dalam firman-Nya:

ولا تقف ما ليس لك به علم إن السمع والبصر والفؤاد كل أولئك كان عنه مسئولا.

Artinya: “Dan janganlah kamu mengikuti apa-apa yang engkau tidak ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban. ” [ Al-lsra`: 36 ]

Kaidah Kedua: Seluruh Nama-Nama Allah adalah Khusus untuk Allah Sesuai dengan Kemuliaan dan Kebesaran-Nya.

Tatkala ditetapkan, dalam empat ayat yang telah berlalu, bahwa Al-Asma` Al-Husna itu semata milik Allah Jalla Sya’nuhu , penyandaran Al-Asma` Al-Husna itu adalah khusus untuk Allah sesuai dengan kemuliaan dan kebesaran-Nya, yang tiada sekutu bagi Allah dalam nama-nama itu, tidak pula ada yang serupa dan setara dengan-Nya.

Kalaupun sebagian penamaan itu dinamakan kepada makhluk, penyandaran nama itu kepada makhluk adalah sesuai dengan kelemahan dan kekurangan makhluk tersebut. Misalnya, Allah menyebut diri-Nya dengan nama Al-Hayy  ‘Yang Maha Hidup’ dalam firman-Nya,

الله لا إله إلا هو الحي القيوم.

Artinya: “(Dia) Allah. Tidak ada sembahan (yang hak), kecuali Dia, Al-Hayy ‘Yang Maha Hidup Kekal’ lagi Al-Qayyum ‘Maha Terus Menerus Mengurus Makhluk-Nya ‘. ” [ Al-Baqarah: 255, Ali ‘Imran: 2 ]

Namun, Allah menyebut sebagian makhluk dengan nama itu pula dalam firman-Nya:

يخرج الحي من الميت ويخرج الميت من الحي ويحي الأرض بعد موتها وكذلك تخرجون.

Artinya: “Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan menghidupkan bumi sesudah kematian (bumi) tersebut. Dan seperti itulah kalian akan dikeluarkan (dari kubur). ” [ Al-Rum: 19 ]

Oleh karena itu, penyandaran nama Al-Hayy kepada Allah adalah sesuai dengan kemuliaan dan kebesaran-Nya, Dialah Yang Maha Hidup dengan kehidupan yang maha sempurna tanpa didahului oleh ketiadaan, tidak disertai oleh kesirnaan, dan tidak diselingi oleh kekurangan apapun. Adapun penyandaran nama itu kepada makhluk, itu adalah kehidupan yang sementara sesuai dengan kelemahan dan kekurangan makhluk tersebut.

Contoh lain, Allah menyebut diri-Nya dengan nama Al-‘Alim ‘mengetahui’ dalam banyak ayat Al-Qur`an, seperti dalam firman-Nya:

قال ربي يعلم القول في السماء والأرض وهو السميع العليم.

Artinya: “Berkatalah (Muhammad kepada mereka), ‘ Rabbku mengetahui semua kata di langit dan di bumi, dan Dialah Al-Sami‘ ‘Yang Maha Mendengar’ lagi Al-‘Alim ‘mengetahui’.” [ Al -Anbiya`: 4 ]

Akan tetapi, Allah menyebut sebagian makhluk dengan nama itu pula dalam firman-Nya:

فأوجس منهم خيفة قالوا لا تخف وبشروه بغلام عليم.

Artinya: “Dan mereka memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim (Ishaq).” [Al-Dzariyat: 28 ]

Tentunya, kesamaan kata alim dalam dua ayat di atas takkan menunjukkan kesamaan saat penyandaran. Penyandaran nama Al-‘Alim ‘mengetahui’ kepada Allah adalah sesuai dengan kebesaran dan kemuliaan Allah. Adapun penyandaran nama tersebut kepada makhluk, hal itu sesuai dengan keterbatasan ilmu yang Allah berikan kepada makhluk itu.

Contoh-contoh seperti di atas sangatlah banyak dalam nash Al-Qur`an dan Sunnah yang menunjukkan keagungan kaidah ini. Perlu diketahui pula bahwa sejumlah kelompok terjatuh ke dalam kesalahan dan kesesatan dalam bab Al-Asma` Al-Husna dikarenakan jauhnya mereka dalam memahami kaidah ini. Wallahul Musta ‘a​​n.

  1. b.      Konten Kedua[3]

Dari isi kedua, juga terpetik sejumlah kaidah penting:

Kaidah Pertama: Seluruh Nama Allah Adalah Maha Terbaik, Tiada Yang Lebih Sempurna dari-Nya.

Kaidah ini terdiri dari penyifatan nama-nama Allah-dalam empat ayat yang telah berlalu-dengan sifat Al-Husna. Dalam bahasa Arab, kata Al-Husna adalah ism tafdhil yang menunjukkan makna lebih atau paling. Sehingga, dalam ayat-ayat tersebut, Al-Asma` Al-Husna bisa diartikan sebagai nama-nama maha husna, yang paling baik, pada puncak yang terbaik atau tidak lagi lebih baik darinya.

Dari kaidah di atas, terdapat sejumlah hukum yang harus diperhatikan dalam memahami Al-Asma` Al-Husna:

Pertama : penetapan sebuah nama untuk Allah harus terbatas pada konteks nama yang disebutkan oleh dalil dari Al-Qur`an dan hadis Nabi SAW. Kita tidak diperbolehkan untuk mengubah penamaan menjadi susunan kalimat lain, seperti mengubah nama Al-Rahman dan Al-Rahim menjadi Al-Rahham. Meskipun terhitung sebagai shighahmubalaghah menurut tata bahasa Arab sebagaimana halnya kata Al-Rahman dan al-Rahim , kata Al-Rahham tidak bisa mewakili nama Al-Rahman dan Al-Rahim yang termasuk sebagai Al-Asma` Al-Husna yang keindahan lafazh dan maknanya terbaik.

Kedua : ada sejumlah nama yang berasal dari mashdar (kata dasar) yang sama. Namun, nama-nama tersebut seluruhnya harus diatur sebagaimana Allah dan Rasul-Nya mengatur. Hal ini karena Allah telah mengabarkan bahwa seluruh nama-Nya adalah maha husna maka nama-nama tersebut, meskipun berasal dari satu mashdar, berada pada puncak keindahan dan kesempurnaan, seperti nama Al-Qadir, Al-Qadir , dan Al-Muqtadir  ‘Yang Maha Mampu’ berasal dari mashdar Al-Qudrah ‘kemampuan’, atau seperti nama Al-‘Aliyy, Al-A’la , dan Al-Muta’al ‘Yang Maha Tinggi’ berasal dari mashdar al-‘Uluw ‘ketinggian’.

Ketiga : makna Al-Husna menunjukkan kesempurnaan dalam hal nama-nama Allah sehingga kita tidak bisa mengatur nama-nama yang mencerminkan kekurangan dan kelemahan, seperti nama yang fakiryang lemahyang berkhianat, dan semisalnya.

Kempat : demikian pula, kita tidak bisa mengatur nama untuk Allah yang berarti kemungkinan baik dan kemungkinan tidak baik , seperti nama yang berkehendakyang berbuat, dan semisalnya karena kehendak dan perbuatan mungkin baik, tetapi mungkin pula tidak baik.

Kelima : tidak bisa pula memberi penamaan yang terpuji pada suatu keadaan, tetapi tercela pada kondisi lain, seperti nama yang bermakaryang mengolok-olok, dan semisalnya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

ومكروا ومكر الله والله خير الماكرين.

Artinya: “(Orang-orang kafir) itu membuat makar, tapi Allah membalas makar mereka itu. Dan Allah adalah sebaik-baik pembalas makar. ” [ A li ‘Imr a n: 54 ]

وإذا لقوا الذين آمنوا قالوا آمنا وإذا خلوا إلى شياطينهم قالوا إنا معكم إنما نحن مستهزئون. الله يستهزئ بهم ويمدهم في طغيانهم يعمهون.

Artinya: “Dan bila bertemu dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan, ‘Kami telah beriman. ‘ Namun, bila kembali ke syaithan-syaithan mereka, mereka mengatakan, ‘Sesungguhnya kami sependirian dengan kalian. Kami hanyalah berolok-olok. ‘ Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka. ” [ Al-Baqarah: 14-15 ]

Dalam dua ayat di atas, ada penyebutan bahwa Allah membalas makar dan olok-olokan mereka. Hal tersebut terpuji dari sisi ini, yang menunjukkan kesempurnaan dan keagungan Allah yang tidak dilemahkan oleh suatu apapun di langit dan di bumi, dan membalas perbuatan manusia sesuai dengan amalan mereka. Namun, kita tidak bisa menamakan Allah dengan nama yang bermakar atau yang membalas olok-olokan[4].

Keenam : keindahan dan kesempurnaan nama-nama Allah mencakup tiga kondisi:

  1. Kesempurnaan nama-nama itu bila disebutkan secara sendirian, seperti kebanyakan nama-nama Allah: Al-‘Alim ‘mengetahui’, Al-tawwab ‘Maha Menerima Taubat’, Al-Rahman, Al-Rahim , dan seterusnya.
  2. Kesempurnaan dan keindahan nama-nama tersebut bila penyebutannya digabungkan dengan nama lain sehingga bertambahlah keindahan dan kesempurnaan nama-nama tersebut, seperti nama Al-Rahman Al-Rahim, Al-tawwab Al-Rahim, Al-Barr Al-Rahim, dan selainnya berupa nash-nash yang ada dalam Al-Qur`an dan Sunnah.
  3. Penyebutan sebagian nama hanya disebutkan oleh nash dalam kondisi bergandengan saja, tidak disebutkan secara terpisah, seperti nama Al-Qab i dh Al-Bas i th, Al-Muqaddim Al-Mu’akhkhir , dan selainnya. Oleh karena itu, di antara keindahan dan kesempurnaannya, nama-nama tersebut tidak bisa dipisahkan dari pasangannya agar tidak kesan kurang dalam nama-nama Allah ‘ Azza Dzikruhu.

Kaidah Kedua: Nama-Nama Allah Adalah Penamaan dan Penyifatan.

Di antara kesempurnaan nama-nama Allah adalah bahwa nama-nama itu bukanlah penamaan belaka sebagaimana penamaan pada makhluk, melainkan bahwa penamaan Allah juga menunjukkan sifat yang terkandung pada nama-nama-Nya. Adapun makhluk, kadang ada yang bernama Shalih (yang shalih / baik), tetapi ia tidak shalih, bernama Muhammad (yang terpuji), tetapi ia tidak memiliki sifat-sifat yang terpuji, atau bernama yang lain.[5]

Dalam Al-Qur`an, Allah SWT berfirman:

وهو الغفور الرحيم.

Artinya: “Dan Dia-lah Al-Gha ur  ‘Yang Maha Pengampun’ lagi Al-Rahim ‘Yang Maha Merahmati’. ” [ Al-Ahqaf: 8 ]

Dalam ayat lain, Allah menjelaskan bahwa nama Al-Rahim mengandung sifat rahmat.

وربك الغفور ذو الرحمة ….

Artinya: “Dan Rabb-mulah Al-Ghafur ‘Yang Maha Pengampun’ lagi memiliki rahmat… ” [ Al-Kahf: 58 ]

Oleh karena itu, nama Al-Rahman, Al-‘Alim, Al-Ghafur  dan seterusnya, di satu sisi adalah sejumlah penamaan untuk Allah SWT Yang Maha Satu, tetapi di sisi lain adalah penamaan yang mengandung penyifatan berbeda sesuai dengan isi nama tersebut. Nama Al-Rahman menunjukkan bahwa Allah bersifat merahmati, nama Al-‘Alim menunjukkan sifat ilmu , nama Al-Ghafur menunjukkan sifat pengampunan , dan seterusnya.

Kaidah Ketiga: Nama-Nama Allah yang Berasal dari Kata yang Berbentuk Muta’addi ‘Memerlukan Obyek’ Mengandung Tiga Hal:

  1. Tetapnya nama itu untuk Allah.
  2. Tetapnya sifat yang terkandung dalam nama tersebut.
  3. Tetapnya hukum dan konsekuensi dari nama tersebut.

Contoh: Nama Al-Sami ‘Yang Maha Mendengar’. Adanya nash-nash dalam Al-Qur`an dan Sunnah yang menyebutkan nama ini menunjukkan kewajiban kita untuk mengimani tiga hal:

  1. Penetapan nama Al-Sami untuk Allah.
  2. Penetapan sifat mendengar untuk Allah sesuai dengan kemuliaan dan kebesaran-Nya.
  3. Penetapan hukum dan konsekuensi nama itu, yaitu Allah Maha mendengar segala suara dan bisikan, baik yang dikeraskan maupun yang disembunyikan.

Allah Jalla Jalaluhu berfirman:

قد سمع الله قول التي تجادلك في زوجها وتشتكي إلى الله والله يسمع تحاوركما إن الله سميع بصير.

Artinya: “Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan perempuan yang mengajukan gugatan kepadamu tentang suaminya, dan mengadukan (perkaranya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal-jawab antara kalian berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat . “[ Al-Mujadilah: 1 ]

Bila berasal dari kata yang tidak berbentuk muta’addi , nama-nama Allah tersebut mengandung dua hal:

  1. Tetapnya nama itu untuk Allah.
  2. Tetapnya sifat yang terkandung dalam nama tersebut.

Contoh: nama Al-Hayy ‘Yang Maha Hidup’. Adanya nash-nash dalam Al-Qur`an dan Sunnah yang menyebutkan nama ini menunjukkan kewajiban untuk kita mengimani dua hal:

  1. Penetapan nama Al-Hayy untuk Allah.
  2. Penetapan sifat kehidupan untuk Allah sesuai dengan kemuliaan dan kebesaran-Nya.

Uraian kaidah pada akan semakin mempertajam pemahaman orang mukmin perihal keindahan dan kesempurnaan nama-nama Allah yang maha husna .

Kaidah ini juga akan memberi cahaya ke dalam hati seorang mukmin tatkala ia membaca dan mencermati ayat-ayat dan hadits-hadits yang menyebutkan nama-nama Allah sekaligus menghayati makna dan hikmah penyebutan nama-nama pada nash-nash tersebut.

Sebagai contoh, para ulama menyimpulkan tentang gugurnya hukum had terhadap pelaku kerusakan di muka bumi kecuali kerusakan berupa hak-hak yang terkait dengan makhluk, yang bertobat sebelum batas ditegakkan terhadapnya. Hal tersebut mereka pahami dari firman Allah:

إلا الذين تابوا من قبل أن تقدروا عليهم فاعلموا أن الله غفور رحيم.

Artinya: “Kecuali orang-orang yang bertobat (di antara mereka) sebelum kalian dapat menguasai (menangkap) mereka; maka ketahuilah bahwasanya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [ Al-M a `idah: 34 ]

Penyebutan dua nama Allah pada akhir ayat menunjukkan gugurnya hukum tersebut dari pelaku yang telah bertobat.

Kaidah Keempat: Nama-Nama Allah Tidaklah Terbatas dengan Jumlah Tertentu.

Pada empat ayat yang disebutkan pada awal pembahasan, penyebutan bahwa hanya milik Allah Al-Asma` Al-Husna adalah pernyataan yang mutlak dan tidak membatasi jumlah nama-nama Allah. Tentunya hal ini lebih memperlihatkan keindahan dan keagungan nama-nama Allah ‘Azza Dzikruhu.

Tidak terbatasnya nama-nama Allah dengan jumlah tertentu juga ditampilkan oleh sejumlah hadis Rasulullah SAW. Di antaranya adalah doa yang beliau contohkan untuk dibaca pada shalat malam:

اللهم أعوذ برضاك من سخطك وبمعافاتك من عقوبتك وأعوذ بك منك لا أحصي ثناء عليك أنت كما أثنيت على نفسك

Artinya: “Ya Allah, saya berlindung dengan keridhaan-Mu terhadap kemurkaan-Mu, dengan afiyat-Mu terhadap siksaan-Mu, dan saya dengan-Mu dari-Mu. Saya tidak bisa menghitung pujian kepada-Mu. Sesungguhnya engkau sebagaimana pujian-Mu kepada diri-Mu.”

Selain itu, dalam hadits yang panjang tentang kisah syafa’at pada hari kiamat, Nabi SAW menjelaskan:

ثم يفتح الله علي من محامده وحسن الثناء عليه شيئا لم يفتحه على أحد قبلي

Artinya: “Kemudian Allah membukakan pujian-pujian dan keindahan sanjungan kepada-Nya untukku, suatu hal yang belum pernah dibukakan untuk seorang pun sebelumku.”

Rasulullah SAW juga bersabda:

“Tidak ada seorang pun yang ditimpa oleh gundah gulana tidak pula oleh kesedihan, kemudian membaca:

اللهم إني عبدك وابن عبدك وابن أمتك ناصيتي بيدك ماض في حكمك عدل في قضاؤك أسألك بكل اسم هو لك سميت به نفسك أو علمته أحدا من خلقك أو أنزلته في كتابك أو استأثرت به في علم الغيب عندك أن تجعل القرآن ربيع قلبي ونور صدري وجلاء حزني وذهاب همي

Artinya: ‘Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak hamba-Mu, dan anak dari hamba perempuan-Mu. Ubun-ubunku berada di tangan-Mu. Hukum-Mu berlaku terhadapku. Ketentuan-Mu kepadaku adalah adil. Saya bermohon kepadamu dengan seluruh nama yang merupakan milik-Mu, yang Engkau namakan diri-Mu dengannya, Engkau ajarkan kepada seorang makhluk-Mu, Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau Engkau simpan dalam ilmu ghaib di sisi-Mu. Jadikanlah Al-Qur`an sebagai penyejuk hatiku, penerang dadaku, pencerah kesedihanku, dan penghilang gundah gulanaku.’ Kecuali niscaya Allah akan menghilangkan kegundahan dan kesedihannya dan mengganti hal itu dengan kegembiraan pada tempatnya.”

Seluruh dalil-dalil di atas menunjukkan bahwa pujian dan sanjungan-termasuk Al-Asma’ Al-Husna-untuk Allah tidaklah terbatas. Adapun hadis bahwa Rasulullah SAW bersabda:

إن لله تسعة وتسعين اسما مائة إلا واحدا من أحصاها دخل الجنة

Artinya: “Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu. Barangsiapa yang menghitung (nama-nama) tersebut, ia akan dimasukkan ke dalam surga.”

Bukanlah pembatasan bahwa nama-nama Allah hanya berjumlan sembilan puluh sembilan nama, melainkan sekadar pengabaran bahwa siapa saja yang menghitung, menghafal, dan memahami sembilan puluh sembilan nama Allah tersebut dijanjikan pahala berupa surga. Andaikata ada orang yang berkata, “Saya memiliki sembilan puluh sembilan permata, “bukan berarti orang tersebut tidak memiliki permata-permata lain selain sembilan puluh sembilan itu. Demikian pula makna hadis di atas.[6]


[4] H. F. Rahadian, Asmaul Husna dan 20 Sifat Allah (Bandung: Mizan, 2010), 67

[5] Muhammad  Ash-Shayim, Mengenal Asmaul Husna (Jakarta: Gema Insani Press, 2007), 59

[6] Tosun Bayrak, Asmaul Husna: makna dan khasiat (Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2003), 33

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s