TAFIS AL IBRIS, Karya Bisyri Mustofa

Standar
  1. A.  Biografi Pengarang

KH. Bisyri Mushthafa merupakan satu diantara sedikit ulama Indonesia yang memiliki karya besar. KH. Bisyri Mushthafa adalah pengarang kitab tafsir al-Ibrîz li Ma’rifah Tafsîr al-Qur’an al-‘AzîzKemampuan KH. Bisyri Mushthafa ini tak lepas dari perkembangan kehidupan beliau sejak masa kecil hingga menjadi ulama masyhur. Untuk lebih jelasnya mengenai biografi KH. Bisyri Mushthafa, berikut paparan tentang hal tersebut :

  1. 1.      Kehidupan KH. Bisyri Mushthafa

KH. Bisyri Mushthafa dilahirkan di kampung Sawahan, Rembang, Jawa Tengah pada tahun 1915 dengan nama asli Mashadi (yang kemudian diganti menjadi Bisyri Mushthafa setelah menunaikan ibadah haji). KH. Bisyri Mushthafa merupakan putra pertama dari pasangan H. Zainal Mushthofa dengan isteri keduanya bernama Hj. Chotijah.[1]

Mashadi merupakan putra pertama dari empat bersaudara, yaitu : Mashadi, Salamah (Aminah), Misbach, dan Ma’sum. Selain itu, KH. Bisyri Mushthafa juga mempunyai beberapa saudara tiri lagi dari kedua orang tuanya. Pernikahan ayahnya dengan istri sebelumnya (Dakilah)  mendapatkan dua orang anak, yakni H. Zuhdi dan Hj. Maskanah. Sedangkan pernikahan ibunya dengan Dalimin sebelumnya juga dikaruniai dua orang anak, yaitu : Achmad dan Tasmin.

Di usianya yang kedua puluh, KH. Bisyri Mushthafa dinikahkan oleh gurunya yakni KH. Cholil dari Kasingan (tetangga Pesawahan) dengan seorang gadis bernama Ma’rufah yang tidak lain adalah putri KH. Cholil sendiri.

Dari pernikahannya ini, KH. Bisyri Mushthafa dikaruniai delapan orang anak, yakni Cholil, Musthofa, Adieb, Faridah, Najihah, Labib, Nihayah dan Atikah. Dua orang putra yakni Cholil (KH. Cholil Bisri) dan Musthofa (KH. Musthofa Bisri) mungkin yang paling familiar dikenal masyarakat sebagai penerus kepemimpinan pondok pesantren.[2]

Seiring pejalanan waktu itu pula tanpa sepengetahuan keluarganya termasuk istrinya sendiri, KH. Bisyri kemudian menikah lagi dengan seorang perempuan asal Tegal, Jawa Tengah yang bernama Umi Atiyah pada tahun 1967. Dari Umi Atiyah, KH. Bisyri dikaruniai seorang anak laki-laki bernama Maemun

KH. Bisyri Mushthafa wafat pada tanggal 16 Februari 1977.

 

  1. 2.      Pendidikan KH. Bisyri Mushthafa

 

Bisyri Mushthafa sejak kecil sudah akrab dengan lingkungan pesantren, meski ayahnya bukan seorang kiai. Sejak umur tujuh tahun, Bisyri Mushthafa belajar di sekolah ” Ongka Loro” di Rembang. Di sekolah ini, Bisyri Mushthafa hanya bertahan satu tahun, karena ketika hampir naik kelas dua, ia diajak orang tuanya untuk menunaikan ibadah haji ke tanah suci. Rupanya, ditempat inilah Allah memberikan cobaannya, dalam perjalanan pulang di pelabuhan Jeddah, ayahnya wafat setelah sebelumnya menderita sakit sepanjang pelaksanaan haji.

Semenjak kewafatan H. Zainal Mustofa, tanggung jawab serta urusan keluarga dipegang oleh kakak tiri Mashadi, yakni H.Zuhdi. Selanjutnya setelah itu, H. Zuhdi mendaftarkan H. Bisyri Mushthafa lagi ke sekolah HIS (Hollands Inlands School). Saat itu, di Rembang terdapat tiga macam bentuk sekolah, yaitu:

a. Europese School, yang memiliki murid terdiri dari anak kalangan atas, seperti anak-anak priyayi, bupati, ataupun asisten residen.

b. HIS (Hollands Inlands School) , yang memiliki murid terdiri dari anak-anak pegawai negeri yang penghasilannya tetap.

c. Sekolah Jawa (Sekolah Ongko Loro), yang memiliki murid terdiri dari anak-anak kampung, anak pedagang, atau tukang.[3]

H. Bisyri Mushthafa diterima di sekolah HIS karena ia diakui sebagai keluarga Raden Sudjono, seorang mantri guru HIS, sekaligus tetangga keluarga Bisri. Namun tak lama kemudian, ia dipaksa keluar oleh Kiai Cholil dengan alasan sekolah tersebut milik Belanda hingga akhirnya Bisyri Mushthafa kembali lagi ke sekolah Ongka Loro yang dulu dan belajar di sana  hingga mendapatkan sertifikat dengan masa pendidikan empat tahun.

Selanjutnya pada 1926, setelah lulus dari Ongko Loro, H. Bisyri Mushthafa belajar di Pesantren Kasingan, pimpinan Kiai Cholil. Pada awalnya, H. Bisyri Mushthafa tidak berminat belajar di pesantren sehingga hasil yang dicapai pada awal-awal mondok sangat tidak memuaskan. Hal ini dikarenakan pelajaran di pesantren dianggap terlalu sulit, kurang mendapat respon baik dari teman-temannya dan bekal uang Rp1 seminggu dirasa kurang cukup. Karena kurang betah di pondok, H. Bisyri Mushthafa berhenti mondok dan sering bermain bersama-sama teman sekampungnya.

Setelah tidak mondok beberapa bulan, maka pada permulaan tahun 1930, H. Bisyri diperintahkan untuk kembali lagi belajar di Kasingan dan ia dipasrahkan kepada Suja’i (ipar KH. Cholil) yang mengajari H. Bisyri dengan berbagai pelajaran hingga ia menguasainya dengan baik.

Sejak tahun 1933, H. Bisyri telah dipandang sebagai santri yang memiliki kelebihan hingga ia sering diminta sebagai rujukan oleh teman-temannya. Setelah menunaikan masa belajarnya, H. Bisyri diperintahkan oleh KH. Cholil untuk tetap tinggal di Kasingan. Dan selanjutnya, ia dinikahkan dengan putrinya, Ma’rufah  pada bulan Sya’ban atau Juni tahun 1935.

Setahun setelah dinikahkan oleh Kiai Cholil dengan putrinya yang bernama Ma’rufah, KH. Bisyri Mushthafa berangkat lagi ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji bersama-sama dengan beberapa anggota keluarga dari Rembang. Namun seusai haji, KH. Bisyri Mushthafa tidak pulang ke tanah air, melainkan memilih bermukim di Mekah dengan tujuan menunutut ilmu di sana.

Di Mekah, beliau belajar dari satu ke guru lain secara langsung dan privat. Tercatat beliau pernah belajar kepada Syeikh Baqil, asal Yogyakarta, Syeikh Umar Hamdan Al Maghriby, Syeikh Ali Malik, Sayid Amid, Syeikh Hasan Massath, Sayid Alwi dan KH. Abdullah Muhaimin.

Dua tahun lebih KH. Bisyri menuntut ilmu di Mekah. KH. Bisyri Mushthafa pulang ke Kasingan tepatnya pada tahun 1938 atas permintaan mertuanya.

Setahun kemudian, mertunya yakni KH. Cholil meninggal dunia. Sejak itulah KH. Bisyri Mushthafa menggantikan posisi guru dan mertunya itu sebagai pemimpin pesantren.

Disamping kegiatan mengajar di Pesantren, KH. Bisyri Mushthafa juga aktif mengaisi ceramah-ceramah (pengajian) keagamaan. Penampilannya diatas mimbar amat mempesona para hadirin yang hadir, sehingga KH. Bisyri Mushthafa sering diundang untuk mengisi ceramah dalam berbagai kesempatan diluar daerah Rembang, seperti Kudus, Demak, Lasem, Kendal, Pati, Pekalongan, Blora dan daerah lain di Jawa Tengah.

  1. 3.      Kepribadian KH. Bisyri Mushthafa

KH. Bisyri Mushthafa berperawakan besar, tinggi dan gagah yang menimbulkan kesan berwibawa  dan menyenangkan. Di antara sifat-sifat keteladanan yang menonjol dari KH. Bisyri Mushthafa adalah sebagai berikut :

  1. Memiliki kasih sayang yang besar terhadap sesama, terutama para santri
  2. Sangat dermawan
  3. Memiliki pendirian yang teguh
  4. Memiliki ambisi yang besar
  5. Menghormati orang yang berilmu, tanpa memandang status
  6. Suka bergaul dengan oran-orang biasa
  7. Humoris

 

  1. B.  Karya-Karya KH. Bisyri Mushthafa

Hasil karya KH. Bisyri Mushthafa umumnya mengenai masalah keagamaan yang meliputi berbagai bidang, di antaranya : ilmu Tafsir, Tafsir, Nahwu, ilmu Hadis, Hadis, Sharaf, Fikih, Akhlak, dan sebagainya. Semua karya kurang lebih berjumlah sekitar 176 judul. Dalam penulisan karya-karyanya, KH. Bisyri Mushthafa menggunakan beragam bahasa, baik itu bahasa Indonesia, Arab, Jawa, ataupun Arab Pegon.[4]

Adapun beberapa di antara karya KH. Bisyri Mushthafa adalah :

  1. Bidang Tafsir
  • Tafsîr al-Ibrîz
  • al-Iktsîr
  1. Bidang Hadits
  • Terjemahan kitab Bulûgh al-Marâm
  • Terjemahan kitab hadits Arba’în an-Nawawy
  • al-Baiqûniyyah
  1. Bidang Akidah
  • Buku Islam dan Tauhid
  • Aqidah Ahli al-Sunnah wa al-Jama’ah
  • al-‘Aqîdah al-‘Awâm
  1. Bidang Ilmu Bahasa
  • Terjemahan Syarah Alfiyah ibnu Malik
  • Terjemahan Syarah al-Jurumiyah
  • Terjemahan Syarah ‘Imrithî
  1. Bidang Fikih
  • Safînah al-Shalât
  • al-Qawâ’id al-Fiqhiyyah
  • Manasik Haji
  1. Bidang-bidang Islam lainnya :
  • al-Khabibah
  • Risâlat al-Ijtihâd wa al-Taqlîd
  • al-Mujâhadah wa al-Riyâdhah
  • al-Ta’lîqât al-Mufîdah li al-Qashîdah al-Munfarijah
  • al-Washâyâ li al-Abâ’ wa al-Abnâ
  • al-Risâlat al-Hasanât
  • Kasykul
  • al-Nabrâs
  • Athôif al-Irsyâd
  • Muniyah al-Zamân
  • Terjemahan kitab al-Farâidh al-Bahiyah
  • Terjemahan Sullam al-Mu’awwanah
  • Islam dan Keluarga Berencana
  • Khotbah Jum’at
  • Syair-Syair Rajabiyah
  • Cara-caranipun Ziyarah lan Sinten Kemawon Walisongo Puniko

 

  1. C.   Tafsir al-Ibriz

Tafsir al-Ibrîz yang mempunyai judul lengkap al-Ibrîz li Ma’rifat Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azîz merupakan salah satu karya KH. Bisyri Mushthafa yang cukup dikenal di kalangan para muslim jawa, khususnya di lingkungan pesantren. Tafsir ini menggunakan bahasa Jawa sebagai bentuk penafsirannya dengan tujuan agar  kaum muslim yang menggunakan bahasa Jawa dapat memahami makna Alquran dengan mudah dan dapat memberi manfaat di dunia ataupun akhirat. Dan sebagai bentuk khidmah terhadap kaum muslimin, khususnya kaum muslim Jawa, KH. Bisyri Mushthafa mengarang kitab tafsir al-Ibrîz hingga berjumlah 30 juz yang disusun kurang lebih waktu sekitar enam tahun, yakni mulai 1954 hingga 1960.[5]

Berikut penjelasan mengenai hal-hal yang terkait dengan tafsir al-Ibrî:

  1. 1.    Sumber Penafsiran al-Ibrîz

Dalam muqaddimah tafsir al-Ibrîz, disebutkan bahwa  penafsiran al-Ibrîz mengambil rujukan dari beberapa kitab tafsir sebelumnya, seperti Tafsîr al-Jalâlain, Baidhâwî, Khâzin, dan selainnya. [6]

  1. 2.    Sistematika Penafsiran al-Ibrîz

Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, tafsir al-Ibrîmenggunakan bahasa Jawa sebagai bentuk penafsirannya, dan memiliki tiga bagian berikut :[7]

  1. Bagian tengah berisi ayat Alquran disertai maknanya dalam bentuk Arab Jawa Pegon.
  2. Bagian pinggir berisi penafsiran ayat
  3. Keterangan-keterangan lain yang perlu untuk diperhatikan. Biasanya hal ini ditandai dengan lafad تنبيهٌ , فائدةٌ  , dan   مهمةٌ .

 

Tafsir al-Ibrîz ditulis ayat demi ayat dari surat ke surat dengan menjelaskan mufradatnya sekalian bila dianggap perlu menurut tertib mushaf. [8]

Dalam menafsirkan ayat Alquran, hampir semua asbabun nuzul dicantumkan, akan tetapi dalam tafsir al-Ibriz tidak disinggung mengenai munasabah antara ayat sebelum dan sesudahnya.

Terkadang di dalamnya dikemukakan pula beberapa pendapat dari para mufassir terdahulu tanpa ada tarjih yang disebutkan dan kadang-kadang  juga KH. Bisyri Mushthafa terlihat lebih condong pada salah satu pendapat yang disebutkan.

  1. 3.    Metode Penafsiran al-Ibrîz

Metode penafsiran yang digunakan oleh KH. Bisyri Mushthafa dari beberapa segi adalah sebagai berikut :[9]

  1. Ditinjau dari sumber penafsiran ayat
  • Ayat Alquran lainnya

Contoh : Ali ‘Imran ayat 139 :

وَلا تَهِنُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الأعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“ Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.”

 

Dalam menafsirkan pengertian orang mukmin, KH. Bisyri Mushthafa memaparkan kriterianya yang terdapat di surat al-Anfal ayat 2 :

 

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ   

 “ Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhan-lah mereka bertawakal “

 

 

  • Hadis Nabi

Contoh : Ali ‘Imran ayat 105 :

وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“ Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat”

 

Dalam penafsiran ayat di atas, KH. Bisyri Mushthafa memberikan penjelasan bahwa perpecahan yang dilarang adalah perpecahan dalam ushûl al-dîn (dasar-dasar agama), akan tetapi jika perpecahan itu terdapat pada furû’ al-dîn (cabang-cabang agama), maka tidak dilarang.

Sebagaimana hadis Nabi :   إختلافُ أُمّتي رحمةٌ

  • Atsar Sahabat

Contoh : al-Isra’ ayat 110

قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَنَ أَيًّا مَا تَدْعُوا فَلَهُ الأسْمَاءُ الْحُسْنَى وَلا تَجْهَرْ بِصَلاتِكَ وَلا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلا

“ Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaulhusna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam salatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu”

 

Mengenai arti sholat. Di dalam al-Ibriz disebutkan pendapat dua sahabat, yakni :

  1. Ibnu Abbas, yang berpendapat bahwa salat adalah bacaan Alquran .

Pada masa Nabi, bacaan Alquran dilarang untuk dikeraskan, karena khawatir akan membuat orang kafir marah dan mencela Islam. Akan tetapi dalam konteks sekarang, dalam al-Ibriz dipaparkan bahwa bacaan Alquran tidak akan membuat orang kafir marah, asalkan tidak tasywisy (mengganggu).

  1. Sy. Aisyah berpendapat bahwa yang dimaksud salat adalah berdoa. Jadi maksudnya, berdoa terlalu keras ataupun terlalu pelan itu tidak baik.

 

  • Israiliyat.

Sumber Israiliyat ini dipakai terutama pada ayat-ayat yang menyebutkan kisah-kisah atau sejarah

Contoh : Surat Yusuf ayat 67

وَقَالَ يَا بَنِيَّ لا تَدْخُلُوا مِنْ بَابٍ وَاحِدٍ وَادْخُلُوا مِنْ أَبْوَابٍ مُتَفَرِّقَةٍ وَمَا أُغْنِي عَنْكُمْ مِنَ اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ إِنِ الْحُكْمُ إِلا لِلَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَعَلَيْهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُتَوَكِّلُونَ

“ Dan Yakub berkata: “Hai anak-anakku janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlain-lain; namun demikian aku tiada dapat melepaskan kamu barang sedikit pun daripada (takdir) Allah. Keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah; kepada-Nya-lah aku bertawakal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakal berserah diri”.

 

Tafsir al-Ibriz, mengenai ayat ini menjelaskan bahwa pintu masuk menuju Mesir itu ada empat dan Nabi Ya’kub berpesan kepada anak-anaknya agar memasuki pintu tersebut secara bergantian agar tidak menarik perhatian orang banyak, karena anak-anak Nabi Ya’kub itu kebanyakan tinggi dan besar, serta berparas rupawan.

 

  • Ijtihad dari pemikiran KH. Bisyri Mushthafa sendiri atau pengolahan terhadap pendapat-pendapat mufassir terdahulu.

Contoh : al-Haaqah ayat 3

وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْحَاقَّةُ

“ Dan tahukah kamu apakah hari kiamat itu?”

Arti al-Haaqah adalah hari kenyataan, sehingga hari kiamat juga dinamakan hari kenyataan karena apa yang diingkarkan oleh orang kafir seperti hisab atau jaza’ menjadi kenyataan yang jelas.

Berdasarkan paparan sebelumnya, metode penafsiran yang dipakai adalah metode tafsir bi al-ra’yi karena sumber penafsiran yang bersumber dari ijtihad pemikiran KH. Bisyri Mushthafa sendiri ataupun pengolahan pendapat para mufassir terdahulu prosentasenya lebih banyak daripada sumber-sumber penafsiran lainnya.[10]

  1. Ditinjau dari sistem penjelasan penafsiran ayat

Tafsir al-Ibrîdipaparkan secara deskriptif (bayani), tidak mengadakan perbandingan antara pendapat ulama tafsir. Pendapat ulama tafsir yang ada hanya digunakan untuk memperjelas penafsiran ayat dan sebagai penguat tafsiran ayat.

Pengaruh pemikiran ulama tafsir dalam al-Ibriz hanya terbatas pada lingkup yang sekiranya ada pendapat tersebut mendukung pendapat penyusun al-Ibriz.

  1. Ditinjau dari keluasan penafsiran ayat.

 

Tafsir al-Ibrîz jika ditinjau dari keluasan penafsiran ayat, maka terkategori ijmali, karena penafsiran ayat-ayat Alqurannya dituturkan secara global saja, tidak secara mendalam dan panjang lebar sehingga mudah dipahami.

  1. Ditinjau dari segi sasaran dan tertib penafsiran ayat

Dari aspek ini, tafsir al-Ibriz tergolong bermetode tahlili, karena  penafsiran ayatnya dilakukan secara keseluruhan mulai dari ayat dan suratnya sesuai urutan mushaf, mulai al-Fatihah hingga al-Nâs.


[1]Achmad Zainal Huda, Mutiara Pesantren Perjalanan Khidmah KH. Bisri Mustofa,  (Yogyakarta : PT. LKiS Pelangi Aksara, 2005), 8

[2] Ibid.,21-22

[3] Ibid., 11-16

[4] Ibid, 73-74

[5] Bisyri Mushthofa, al-Ibrîz li Ma’rifat Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azîz, (Kudus : Menara Kudus), 1

[6] Ibid.

[7] Ibid, 2

[8] Ahmad Muzayyin, Studi Analisis Tentang Metode dan Sistematika Tafsir al-Ibriz oleh KH. Bisyri Mushthafa, (Skripsi : IAIN Sunan Ampel Surabaya, 1989), 65-66

[9] Ahmad Syaifuddin, Metode Penafsiran Tafsir al-Ibriz Karya KH. Bishri Musthofa, (Skripsi : IAIN Sunan Ampel Surabaya, 2001), 48-49

[10] Ibid, 69-84

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s