Ajari Aku Bahasa Cintamu

Standar

jernih, kau begitu menawan

pesona mu menyembuhkan sedikit luka sayat

yang mencabik-cabik perasaan tentramku yang dulu

jernih, sepah, menjadi sepah yang lain jadinya

memikau sekali keanggunanmu

memahat lukisan begitu jelas

sebuah deret namamu

eh, jernih

tolong ajari aku donk

ajari aku bahasa cintamu

ajari aku, biar aku dapat memahami dan mengerti kamu

mau kan kamu mengajariku?

nestapa yang dulu pun berontak terlepas

hadirmu ku harap dapat menggantinya.

Neraka dan Pedih Siksanya

Standar

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.    Latar Belakang

Surah al Mulk disepakati oleh ulama sebagai surat Makkiyah, yakni turun sebelum Nabi berhijrah ke Madinah, bahkan sementara ulama menilai keseluruhan surat yang terdapat dalam Juz 29 al Quran adalah Makkiyah sebagaimana keseluruhan surat yang terdapat dalam Juz ke 28 adalah Madaniyah[1].

Surat ini menurut Sayyid Quthub bertujuan menciptakan pandangan baru – bagi masyarakat muslim – tentang wujud dan hubunganNya dengan Tuhan Pencipta wujud. Gambaran menyeluruh, melampaui alam bumi yang sempit dan ruang dunia yang terbatas menuju alam langit bahkan menuju kehidupan akhirat. Menuju kepada makhluk lain selain manusia baik yang hidup di dunia – seperti jin dan burung – maupun di alam akhirat seperti neraka Jahannam dan penjaga-penjaganya hingga mencapai alam-alam gaib yang berbeda dengan alam nyata yakni berkaitan dengan hati manusia dan persamaannya.[2]

Surat ini juga mengusik dan menggerakkan di dalam jiwa semua gambaran, watak, serta endapan-endapan yang beku, padam dan kolot dari pola pikir jahiliah dengan segala kotorannya. Juga membukakan jendela-jendela di sana-sini, menyapu debu-debu, serta melepaskan perasaan, pikiran, dan pandangan untuk melihat dan memperhatikan alam semesta, lubuk dan relung jiwa, lapisan-lapisan udara, sumber-sumber air dan hal-hal yang tersembunyi dalam kegaiban. Jika demikian, niscaya ia akan melihat di sana ada tangan Allah yang berbuat. Juga akan merasakan gerak alam semesta yang bersumber dari kekuasaan Allah. Dia (jiwa manusia) akan kembali dari perjalanannya disertai perasaan bahwa urusan ini sangat agung, dan lapangannya sangat luas. Kemudian dia berpindah dari bumi yang demikian luas ke alam langit, dan dari dunia nyata kepada akhirat, dan dari yang beku kepada yang bergerak bersama gerak kekuasaan Ilahi, gerak kehidupan, dan gerak makhluk hidup[3].

Jiwa manusia pada zaman jahiliah hampir tidak melampaui alam lahir tempat mereka hidup ini saja, tidak sampai memikirkan perkara gaib dengan segala kandungannya. Jiwa manusia hanya tenggelam dalam kehidupan dunia saja, tertahan dalam sangkar bumi tempat tinggalnya. Maka, surat ini membawa hati dan pandangan mereka untuk meperhatikan alam gaib, langit dan kekuasaan yang tidak telihat oleh mata, tetapi ia mampu berbuat menurut apa yang ia kehendaki dan kapan saja ia berkehendak. Surat ini mengguncangkan di dalam perasaan mereka, bumi yang mereka merasa tenang dan mantap hidup di dalamnya ini[4].

  1. B.     Identifikasi Masalah dan Batasan Masalah

Dari paparan latar belakang di atas, dapat diidentifikasi beberapa masalah yang timbul, yaitu tentang orang islam yang harus mempunyai pandangan baru terhadap wujud dan hubungannya dengan Tuhan, tentang penafsiran ulama terhadap surat al Mulk ayat 7, tentang manusia yang jarang memikirkan akhirat sebagaimana manusia di zaman jahiliah yang hanya terjebak pada kehidupan di bumi dan merasa aman di dalamnya, tentang adanya neraka jahannam dan penjaga-penjaganya sebagai makhluk Allah.

Dari beberapa masalah yang sudah diidentifikasi tersebut, perlu adanya pembatasan masalah agar pembahasan dalam skripsi ini bisa terarah dan dapat dipahami dengan mudah. Oleh karena itu, penelitian ini dibatasi dengan dua masalah, yaitu tentang sifat neraka jahannam dan penfsiran ulama surat al Mulk ayat 7.

 

 

  1. C.    Rumusan Masalah

Dari latar belakang, identifikasi masalah dan batasan masalah di atas perlu adanya fomulasi rumusan masalah agar memudahkan dalam pengimplementasian penelitian sebagaimana berikut:

  1. Bagaimana Penafsiran Ulama terhadap Surat al Mulk ayat 7?
  2. Seperti Apa Sifat Neraka Jahannam?

 

  1. D.    Tujuan Penelitian

Dari rumusan masalah di atas, tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian surat al Mukl ayat 7 ini adalah :

  1. Untuk mendeskripsikan penafsiran ulama terhadap surat al Mulk ayat 7.
  2. Untuk menjelaskan sifat neraka jahannam.

 

  1. E.     Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah untuk menyadarkan manusia tentang adanya hari akhirat dan adanya neraka jahannam yang mempunyai sifat tersendiri, karena setiap ciptaan Allah memiliki ruh sesuai dengan bentuk dan keadaannya.

  1. F.     Tinjauan Pustaka

Tinjauan pustaka yang digunakan dalam penelitian ini terdapat beberapa referensi yang berkaitan dengan penfsiran surat al Mulk dan sifat neraka jahannam.

1)      Al-Imam Abul Fida Isma’il Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir (Sinar Baru al-Gensindo), juz 29

2)      Sayyid Mahmud al-Baghdadi, Ruuhul Ma’ani, (Beirut:Daarul Kitabil Ilmiah, 1994 M)

3)      M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, (Tangerang: Lentera Hati, 2002)

 

 

  1. G.    Sistematika Pembahasan

Untuk lebih memudahkan pembahasan dalam skripsi ini, maka penulisan ini disusun atas empat bab sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang
  2. Identifikasi Masalah dan Batasan Masalah
  3. Rumusan Masalah
  4. Tujuan Penelitian
  5. Manfaat Penelitian
  6. Telaah Pustaka
  7. Sistematika Pembahasan

BAB II MODEL PENYUSUNAN TAFSIR

  1. Metode Tahlili
  2. Metode Ijmali (global)
  3. Metode Muqorin (perbandingan/komparasi)
  4. Metode Maudlu’i (tematik)

BAB III PENAFSIRAN SURAT AL MULK AYAT 7

  1. Surat al-Mulk Ayat 7
  2. Makna Mufradat (kosakata)
  3. Munasabah
  4. Penafsiran Beberapa Ulama

BAB IV PENUTUP

  1. KESIMPULAN
  2. SARAN

 

 

BAB II

MODEL PENYUSUNAN TAFSIR

Model penyusunan tafsir dapat dilihat dari metode yang akan digunakan calon mufassir. Model penyusunan tafsir tersebut ada empat metode, yaitu: metode tahlili, metode ijmali (global), metode muqorin (perbandingan), dan metode maudlu’I (tematik)[5].

  1. A.    Metode Tahlili[6]
    1. Menerangkan hubungan (munasabah), baik antara satu ayat dan ayat lain maupun antar satu surat dan surat lain.
    2. Menjelaskan sebab-sebab turunnya ayat (asbab an Nuzul).
    3. Menganalisis kosakata (mufrodat) dan lafal dari sudut pandang bahasa Arab. Untuk menguatkan pendapatnya, terutama dalam menjelaskan bahasa ayat yang bersangkutan, mufassir kadang-kadang juga mengintip syair-syair yang berkembang sebelum dan pada masanya.
    4. Memaparkan kandungan ayat secara umum dan maksudnya.
    5. Menerangkan unsur-unsur fasahah, bayan, dan i’jaz-nya, bila dianggap perlu. Khususnya, apabila ayat-ayat yang ditafsirkan itu mengandung keindahan balaghah.
    6. Menjelaskan hukum yang dapat ditarik dari ayat yang dibahas, khususnya bila ayat-ayat yang ditafsirkan adalah ayat-ayat ahkam,  yaitu ayat yang berhubungan dengan persoalan hukum.
    7. Menerangkan makna dan maksud syara’ yang terkandung dalam ayat yang bersangkutan. Sebagai sandarannya, mufassir mengambil manfaat dari ayat-ayat lainnya, hadis nabi, pendapat para sahabat dan tabi’in, disamping ijtihad mufassir sendiri. Apabila tafsir ini bercorak at Tafsir al Ilmi (penafsiran dengan ilmu pengetahuan), mufassir biasanya mengutip pendapat para ilmuan sebelumnya, teori-teori ilmiah modern, dan sebagainya.
    8. B.     Metode Ijmali (Global)[7]
      1. Menjelaskan makna ayat-ayat al Quran secara garis besar
      2. Menggunakan ungkapan-ungkapan yang diambil dari al Quran sendiri dengan menambahkan kata atau kalimat penghubung sehingga memudahkan para pembaca untuk memahaminya.
      3. C.    Metode Muqorin (Perbandinagan)[8]
        1. Perbandingan ayat al Quran dengan ayat lain.
        2. Perbandingan ayat al Quran dengan hadis.
        3. Perbandingan penafsir mufassir dengan mufassir lainnya.
        4. D.    Metode Maudlu’i (Tematik)[9]
          1. Menetapkan masalah yang akan dibahas (topik).
          2. Menghimpun ayat yang berkaitan dengan masalah tersebut.
          3. Menyusun runtutan ayat sesuai dengan masa turunnya, disertai pengetahuan tentang asbab an Nuzul-nya.
          4. Memahami korelasi ayat-ayat tersebut dalam suratnya masing-masing.
          5. Menyusun pembahasan dalam kerangka yang sempurna (outline).
          6. Melengkapi pembahasan dengan hadis-hadis yang relevan dengan pokok bahasan.
          7. Mempelajari ayat-ayat tersebut secara keseluruhan dengan jalan menghimpun ayat yang mempunyai pengertian yang sama atau mengompromikan ayat lain am (umum), dan yang khas (khusus), muthlak dan muqayyad (terikat), atau yang pada lahirnya bertemu dalam satu muara, tanpa perbedaan atau pemaksaan.

 

 

BAB III

PENAFSIRAN SURAT AL MULK AYAT 7

 

  1. A.   Surat Al Mulk ayat 7

إِذَا أُلْقُوا فِيهَا سَمِعُوا لَهَا شَهِيقًا وَهِيَ تَفُورُ

Artinya:”Apabila mereka dilemparkan ke dalamnya mereka mendengar suara neraka yang mengerikan, sedang neraka itu menggelegak”.

  1. B.     Makna Mufradat (Kosakata)

(إِذَا أُلْقُوا فِيهَا سَمِعُوا لَهَا شَهِيقًا) apabila mereka dilemparkan ke dalamnya mereka mendengar suara neraka yang mengerikan. Ibnu Jarir mengatakan:” yakni, suara jeritan”. (وَهِيَ تَفُورُ) sedang neraka itu menggelegak. At Tsauri mengatakan:” neraka itu menggodok mereka, seperti sedikit biji-bijian yang dimasak di air yang sangat banyak”[10].

(إِذَا أُلْقُوا فِيهَا) apabila mereka dilemparkan ke dalamnya. Sayyid Mahmud mengatakan dalam tafsir ruuhul ma’ani :” dilemparnya mereka seperti halnya kayu bakar yang dilemparkan ke dalam api yang sangat besar. (سَمِعُوا لَهَا) mereka mendengar suara neraka. Yang dimaksud neraka itu yaitu neraka Jahannam[11]. (شَهِيقًا) mengerikan. Kata syahiq adalah upaya bernafas dengan keras untuk memasukkan udara ke dalam dada. Ini terambil dari kata yang bermakna tinggi. Menarik dan menghembuskan nafas boleh jadi karena merintih kesakitan atau karena kesedihan yang mendalam[12]. Ibnu Jarir Ath Thobari mengatakan bahwa makna syahiq adalah suara yang keluar dari bagian dalam tubuh dengan sangat kuatnya seperti suara keledai[13]. Atau ringkasnya syahiq bermakna teriakan. Maksudnya adalah ketika orang kafir itu dilemparkan ke dalam neraka, neraka pun akan teriak. Lantas bagaimanakah lagi siksaan neraka bagi orang-orang kafir tersebut?![14]. Ibnu Jarir Ath Thobari mengatakan bahwa makna tafuur adalah mendidih[15]. Sufyan Ats Tsauri mengatakan, “Neraka itu mendidih gara-gara orang kafir yang masuk di dalamnya. Gambaran mendidihnya adalah seperti sebuah biji yang jumlahnya sedikit mendidih dalam air yang jumlahnya banyak[16].”

  1. C.    Munasabah

Munasabah ayat ini adalah surat al-Mulk ayat 8 (ayat selanjutnya), yang berbunyi:

تَكَادُ تَمَيَّزُ مِنَ الْغَيْظِ

Artinya:“Hampir-hampir (neraka) itu terpecah-pecah lantaran marah.”

Ibnu ‘Abbas mengatakan bahwa neraka hampir-hampir saja terpecah lantaran marah. Yang memiliki perkataan serupa dengan Ibnu ‘Abbas adalah Adh Dhohak dan Ibnu Zaid rahimahumullah. Allah marah terhadap orang yang bermaksiat padaNya dan murka pada Allah[17].

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah berkata, “Neraka hampir-hampir saja terpecah lantaran marah pada orang-orang kafir. Lantas bagaimana tanggapanmu, apa yang akan dilakukan neraka pada orang-orang kafir tersebut ketika mereka berada dalam neraka?!”[18]

 

 

  1. D.    Penafsiran Beberapa Ulama

Ayat di atas menyatakan bahwa apabila – dan ini pasti terjadi – mereka dilemparkan oleh Malaikat atau siapapun yang ditugaskan Allah dengan penuh kehinaan ke dalamnya, mereka mendengar suaranya neraka itu yang mengerikan karena kerasnya kobaran api, sedang ia yakni neraka itu menggelegak bagaikan mendidih[19].

Munurut Muhammad Abduh Tuaisikal, Jahannam berarti sesuatu yang dasarnya amat dalam (ba’idatul qo’ri), sebagaimana disebutkan dalam Al Qomus[20]. Begitulah keadaan neraka, ia begitu dalam. Abu Hurairah mengatakan,

كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلمإِذْ سَمِعَ وَجْبَةً فَقَالَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم تَدْرُونَ مَا هَذَا. قَالَ قُلْنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ هَذَا حَجَرٌ رُمِىَ بِهِ فِى النَّارِ مُنْذُ سَبْعِينَ خَرِيفًا فَهُوَ يَهْوِى فِى النَّارِ الآنَ حَتَّى انْتَهَى إِلَى قَعْرِهَا.

Artinya:“Kami dulu pernah bersama Rasulullah SAW. Tiba-tiba terdengar suara sesuatu yang jatuh. Nabi lantas bertanya, “Tahukah kalian, apakah itu?” Para sahabat pun menjawab, “Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui.” Nabi kemudian menjelaskan, “Ini adalah batu yang dilemparkan ke dalam neraka sejak 70 tahun yang lalu dan batu tersebut baru sampai di dasar neraka saat ini[21].”

Sayyid Quthb dalam tafsirnya fii zhilalil qur’an mengatakan bahwa jahannam di sini digambarkan sebagai makhluk hidup. Ia menahan marah, hingga napasnya turun naik ngos-ngosan, bergejolak dan menggelegak, dan seluruh sisinya dipenuhi kemarahan. Pernyataan ini secara lahiriah tampak sebagai kiasan dan lukisan terhadap neraka jahannam. Namun sebenarnya ia menetapkan suatu hakikat yang sesungguhnya. Karena, setiap ciptaan Allah memiliki ruh yang sesuai dengan jenis fisiknya, setiap makhluk mengenal tuhannya dan bertasbih dengan memujinya, dan dia jengkel ketika melihat manusia kufur kepada penciptanya[22].

Hakikat ini disebutkan dalam al Quran pada beberapa tempat yang berbeda-beda yang memberikan kesan bahwa ayat-ayat itu menetapkan suatu hakikat yang tersimpan pada setiap sesuatu di alam ini. Terdapat pernyataan yang transparan di dalam al Quran surat al-Isra’ ayat 44 yang berbunyi:

تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالأرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَكِنْ لا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا.

Artinya:” Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memujiNya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun”[23].

Mungkin saja ada yang mengatakan bahwa ayat ini adalah majazi untuk melukiskan ketundukan langit dan bumi kepada peraturan Allah. Akan tetapi, takwil semacam ini tidak diperlukan, bahkan sangat berjauhan dengan makna yang jelas yang langsung dapat ditangkap[24].

Nash ini menunjukkan hakikat. Yaitu, hakikat keimanan semua makhluk kepada khaliknya, hakikat tasybih segala sesuatu dengan memujiNya dan hakikat kegeraman dan kebencian makhluk-makhluk ini terhadap keganjilan manusia ketika mereka berbuat kufur dan menyempal dari sikap semua makhluk ini. Juga hakikat hendak melompatnya makhluk-makhluk ini untuk merekam manusia karena marah dan geram. Pasalnya, dengan kekafirannya itu manusia menodai kemuliaan dan kehormatannya, sehingga ia marah dan geram. Karena kemarahan dan kegeramannya itu seakan-akan ia hendak pecah, sebagaimana neraka jahannam ketika ia menggelegak[25].

Dalam tafsir al-Azhar karangan Hamka dijelaskan bahwa suara gemuruh (gelegak) ialah suara api neraka itu sendiri. Menurut tafsir dari Ibnu Jarir bahwa suara gemuruh itu ialah dari bunyi pekik orang yang sedang menderita azab di dalamnya. “sedang ia menggelegak” (akhir ayat 7). Maka digambarkanlah di sini bahwa neraka itu menggelegak, laksana gelegak air yang sedang dimasak atau minyak yang sedang menggoreng sesuatu. Sufyan Tsauri mengatakan bahwa manusia dalam neraka yang sedang menggelegak itu dibanting kesana kemari, dibalik, diumban, dilempar ke kiri, dilempar ke kanan. Alangkah dahsyatnya penderitaan itu setelah diketahui bahwa manusia yang tengah diazab! Padahal di dunia ini jika sesuatu siksaan tidak tertahankan lagi, selesailah dia bila nyawa telah bercerai dengan badan[26].

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

PENUTUP

 

  1. A.    Kesimpulan

Dari data yang sudah disampaikan dan kemudian dianalisa data, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai jawaban dari rumusan masalah sebagai berikut:

  1. Pada surat al-Mulk ayat 7, menggambarkan bahwa Jahannam berarti sesuatu yang dasarnya amat dalam (ba’idatul qo’ri) sebagaimana disebutkan dalam Al Qomus. Begitulah keadaan neraka, ia begitu dalam. jahannam di sini juga digambarkan sebagai makhluk hidup. Ia menahan marah, hingga napasnya turun naik ngos-ngosan, bergejolak dan menggelegak, dan seluruh sisinya dipenuhi kemarahan. Pernyataan ini secara lahiriah tampak sebagai kiasan dan lukisan terhadap neraka jahannam. Namun sebenarnya ia menetapkan suatu hakikat yang sesungguhnya. Karena, setiap ciptaan Allah memiliki ruh yang sesuai dengan jenis fisiknya, setiap makhluk mengenal tuhannya dan bertasbih dengan memujinya, dan dia jengkel ketika melihat manusia kufur kepada penciptanya.
  2. Sifat neraka yang digambarkan pada surat al-Mulk ayat 7 adalah suara gemuruh (gelegak) yang bererti suara api neraka itu sendiri. Suara gemuruh itu ialah dari bunyi pekik orang yang sedang menderita azab di dalamnya. “sedang ia menggelegak” (akhir ayat 7). Maka digambarkanlah di sini bahwa neraka itu menggelegak, laksana gelegak air yang sedang dimasak atau minyak yang sedang menggoreng sesuatu. Sufyan Tsauri mengatakan bahwa manusia dalam neraka yang sedang menggelegak itu dibanting kesana kemari, dibalik, diumban, dilempar ke kiri, dilempar ke kanan. Alangkah dahsyatnya penderitaan itu setelah diketahui bahwa manusia yang tengah diazab! Padahal di dunia ini jika sesuatu siksaan tidak tertahankan lagi, selesailah dia bila nyawa telah bercerai dengan badan
  3. B.     Saran

Dengan terselesaikannya penulisan skripsi ini, berharap agar skripsi ini dapat dikaji ulang sebagai bahan penelitian lebih lanjut tentang penafsiran ayat-ayat al Quran terutama yang berkaitan dengan judul skripsi ini.

Selain itu penelitian ini diharapkan dapat memberikan sebuah dorongan kepada manusia unutk selalu beriman kepada Allah dan hari akhir terutama tentang adanya neraka. Penelitian ini juga diharapkan dapat menambah pengetahuan manusia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Al Qomus Al Muhith, Al Fairuz Abadiy, Mawqi’ Al Waroq.

al-Baghdadi, Sayyid Mahmud. 1994 M. Ruuhul Ma’ani. Beirut: Daarul Kitabil Ilmiah.

Al-Imam Abul Fida Isma’il Ibnu Katsir. Tafsir Ibnu Katsir. Sinar Baru al-Gensindo. juz 29

Anwar, Rosihon. 2005. ilmu Tafsir. Bandung: Pustaka Setia.

As Sa’di , ‘Abdurrahman bin Nashir. 1423 H. Taisir Al Karimir Rahman fii Tafsir Kalamil Mannan. Muassasah Ar Risalah. cetakan pertama.

Hamka. 2002. tafsir al-azhar juz 29, Jakarta: Pustaka Panjimas.

Shahih Muslim, Tahqiq: Muhammad Fuad Abdul Baqi, Dar Ihya’ At Turots Beirut.

Shihab, M. Quraish. 2002. Tafsir al-Misbah. Tangerang: Lentera Hati.

Shihab, Quraish, dalam Azumardi Azra, Sejarah Ulum al Quran. 1999.Jakarta: Pustaka firdaus.

Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, Mawsu’ah Qurtubah, cetakan pertama, tahun 1421 H.

Tafsir Ath Thobari (Jami’ Al Bayan min Ta’wil Ayil Qur’an), Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath Thobari, Tahqiq: Abdullah bin Abdil Muhsin At Turki, terbitan Hijr.


[1] Quraish Shihab, Tafsir al Mishbah, (Tangerang: Lentera Hati, 2007) hal 339

[2] Ibid hal 340

[3] Sayyid Quthb, Tafsir Fi Zhilalil Qur’an, (Jakarta: Gema Insani, 2004) hal 221

[4] Ibid hal 222

[5] Rosihon Anwar, ilmu Tafsir, (bandung: Pustaka Setia, 2005) hal 185

[6] Quraish Shihab, dalam Azumardi Azra, Sejarah Ulum al Quran, (Jakarta: Pustaka firdaus, 1999) hal 173-174

[7] Rosihon Anwar, ilmu Tafsir, (bandung: Pustaka Setia, 2005) hal 186

[8] Ibid

[9] Ibid 187

[10] Al-Imam Abul Fida Isma’il Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir (Sinar Baru al-Gensindo), juz 29, hal 6

[11] Sayyid Mahmud al-Baghdadi, Ruuhul Ma’ani, (Beirut:Daarul Kitabil Ilmiah, 1994 M), hal 11

[12] M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, (Tangerang: Lentera Hati, 2002), hal 351

[13] Tafsir Ath Thobari, 23/123.

[14] Faedah dari Taisir Al Karimir Rahman, hal. 876.

[15] Ibid. 124

[16] Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 14/73

[17] Ibid, 23/124-125

[18] Ibid.

[19] M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, (Tangerang: Lentera Hati, 2002), hal 350

[20] Al Qomus Al Muhith, 3/205

[21] HR. Muslim no. 2844.

[22] Sayyid Quthb, fii zhilalil qur’an, (Jakarta: Gema Insani, 2004), hal 233

[23] Ibid

[24] Sayyid Quthb, fii zhilalil qur’an, (Jakarta: Gema Insani, 2004), hal 233

[25] Ibid. hal 234

[26] Hamka, Tafsir Al Azhar, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 2002), hal 16

Standar

"KATA-KATA HIKMAH" Ogy Febri Adlha (OFA)

semangat anak kecil

Sahabat Hikmah…

Lihatlah Anak kecil Gaza yang masih balita di rumah sakit ini..
Dengan semangatnya dia tidak merasakan sakit…
Walauapun kulit kepalanya mengelupas karena serangan Yahudi Israel…
Dia tetap dengan penuh semangat dan optimis akan mendapatkan kemenangan… dengan tanda “V”

Apa rahasia ketangguhan Gaza yang mempunyai wilayah kecil dan terpisah dengan Tepi Barat ? Sehingga seorang anak kecil pun mempunyai semangat juang yang sangat tinggi?

>>”Mereka menjadi kuat dan mulya karena menjalani hidup sepenuhnya diatas agama NYA”<<

Akhmad Arqom, seorang wartawan Islamedia  mengatakan:

….Saya lalu teringat pada sebuah moment 10 tahun lalu ketika tokoh dan pemimpin perjuangan mereka ditanya dalam sebuah forum ,” Apa rahasianya sehingga pejuang pejuang Palestina memiliki semangat, kesabaran dan keberanian perjuangan yang sangat menakjubkan ?”

” Kuncinya adalah ini ,kami mendidik generasi kami dengan ini ,” jawab sang tokoh tersebut sambil mengacungkan mushaf Al Quran…..

Nah sahabat sahabatku , kali ini saya ingin mengajakmu menelusuri fakta…

Lihat pos aslinya 634 kata lagi

Standar

reblog juga yaaa

Catatan Dahlan Iskan

Senin, 03 Desember 2012
Manufacturing Hope 54

Dicari : 100.000 ekor anak sapi
Waktu : Tahun 2013
Pembeli : BUMN
Tujuan : Dipelihara sebagai sapi potong untuk membantu mengatasi kekurangan daging lokal

Itu bukan iklan biasa. Itu iklan yang sangat mendesak. Mencari 20.000 ekor anak sapi saja ternyata bukan main sulitnya. Apalagi 100.000 atau bahkan 200.000.

Maka, setelah teman-teman BUMN menekuni persapian selama enam bulan, rupanya diperlukan sebuah pertolongan. Teman-teman BUMN yang keahliannya berkebun sawit, tidak menemukan akal untuk mengatasi kekurangan bibit sapi.

Jelaslah bahwa mahalnya makanan ternak, yang dulu dianggap sebagai persoalan besar, ternyata bukan satu-satunya persoalan di bidang peternakan sapi. Soal itu sudah ditemukan jalan keluarnya: daun dan pelepah sawit ternyata bisa untuk bahan pokok makanan sapi yang murah. Daun dan pelepah sawit dihancurkan untuk dibentuk mirip rumput.

Tidak ada masalah teknis di sini. Tinggal diperlukan beberapa tambahan untuk kelengkapan nutrisinya.
BUMN memiliki sekitar 800.000 ha kebun kelapa…

Lihat pos aslinya 886 kata lagi

Standar

assalamualaikum,,,,

Blog Pribadi Agus Supriyadi

Beberapa hari yang lalu, facebook saya dikirimi sebuah vidio oleh syabab HTI terkait statment Presiden Mursi tentang penegakan hijab di Mesir, tidak lupa syabab memberikan komentarnya mengenai vidio tersebut dengan nada sinis dan tendensius:

“Daripada sibuk ngeluarin fitnah, mending nih denger kata-kata yang keluar dari orang yang katanya hafal Al-Qur’an!. Presiden Mesir, Mursi mengatakan; “Menegakkan Hijab adalah konyol, dan bukanlah bagian dari Syariah, bahkan melawan Syariah.”

Tanggapan untuk semua syabab HTI di Indonesia:

Presiden Muhammad Mursi sama sekali tidak mengatakan seperti yang dituduhkan. Beliau memang mengatakan: Kalaam Faarigh (omong kosong/ gosip/ konyol). Tapi tidak seperti yang dituduhkan oleh syabab HTI. Bagi kawan-kawan alumni Mesir, bahasa Arab yang digunakan di vidio tersebut adalah bahasa ‘amiyah (keseharian).

Kurang lebih terjemahannya sebagai berikut:

“Ada gosip yang mengatakan pada kalian, ‘Dr. Moursi akan memaksakan wanita mengenakan hijab. Kata siapa itu? Siapa yang menebar gosip tak bermutu seperti itu? Hijab adalah syariat. Itu benar-benar syariat…

Lihat pos aslinya 904 kata lagi

Tafsir Tentang Akhirat

Standar

PEMBAHASAN 1

  1. Ayat

Q.S At-Takatsur : 1-8

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ۝حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرُ۝ كَلا سَوْفَ تَعْلَمُونَ ۝ثُمَّ كَلا سَوْفَ تَعْلَمُونَ۝ كَلا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ۝لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ۝ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ۝ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ۝

  1. Terjemah
    1. Bermegah-megahan telah melalaikan kamu,
    2. Sampai kamu masuk ke dalam kubur
    3. Sekali-kali tidak! Kelak kamu akan mengetahui  (akibat perbuatanmu itu)
    4. Kemudian sekali-kali tidak! Kelak kamu akan mengetahui
    5. Sekali-kali tidak! Sekiranya kamu mengetahui dengan pasti
    6. Niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka jahim
    7. Kemudian kamu benar-benar akan melihatnya dengan mata kepala sendiri
    8. Kemudian kamu benar-benar akan ditanya pada hari tentang kenikmatan (yang megah di dunia itu)

 

  1. Mufradat

أَلْهَاكُمُ          = melalaikan kamu semua

التَّكَاثُرُ         = bermegah-megahan

زُرْتُمُ           = kamu masuk

لَتَرَوُنَّ          = benar-benar melihat

عَيْنَ الْيَقِينِ     = mata kepala sendiri

 

 

 

  1. Sabab Nuzul

Mengenai sebab turunnya ayat ini, ada riwayat yang menceritakan bahwa Imam Ibnu Abu Hatim mengetengahkan sebuah hadis melalui Ibnu Buraidah yang menceritakan, bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan dua kabilah dari kalangan Anshar, yaitu Bani Haritsah dan Bani Harits.

Kedua kabilah itu saling bermegah-megahan dan saling bangga-membanggakan apa yang mereka miliki. Salah satu di antara kedua kabilah berkata, “Di antara kalian terdapat orang-orang yang seperti si Polan dan si Polan.” Demikian pula kabilah lainnya mengatakan hal yang sama. Mereka tidak mau kalah kekayaan dengan kabilah yang lain.

Akhirnya mereka mengatakan, “Marilah kita semua pergi ke kuburan”, lalu salah satu kabilah mengatakan, “Di antara kalian terdapat orang-orang yang seperti si Polan dan si Polan”, mereka mengatakan demikian seraya mengisyaratkan kepada kuburan itu. Demikian pula kabilah lainnya mengatakan hal yang sama terhadap lawannya. Sehingga kemudian Allah menurunkan firman-Nya, “Bermegah-megahan telah melalaikan kalian, sampai kalian masuk ke dalam kubur.”

Berbeda dengan Imam Ibnu Jarir. Beliau mengetengahkan sebuah hadis yang bersumber dari Ali r.a. yang menceritakan, pada asal mulanya kami merasa ragu tentang siksa kubur, sehingga turunlah ayat ini yang mulai dari ayat pertama, “Bermegah-megahan telah melalaikan kalian.” (Q.S. At Takaatsur : 1) sampai dengan firman-Nya; “..dan janganlah begitu, kelak kalian akan mengetahui.” (Q.S. At Takaatsur : 4).

 

  1.  Tafsir Ayat

Ibnu Kathir berkata: Allah SWT menegaskan bahwa cinta dunia, kenikmatan yang ada padanya dan kemegahannya telah menyibukkan kalian dari berusaha menggapai bekal di akhirat. Dunia ini begitu melalaikan kalian sehingga maut menjemput kalian lalu engkau berada dalam liang kubur dan menjadi penghuninya.

Dari Mutharrif dari bapanya dari Abdullah bin Syikhir ra berkata: Aku mendatangi Nabi Muhammad SAW dan baginda sedang membaca:

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ ۝

Baginda berkata: Anak Adam berkata: Hartaku, hartaku, maka Allah berkata kepadanya: Wahai anak Adam adakah engkau memiliki dari hartamu melainkan apa yang telah engkau makan lalu engkau habiskan, atau apa yang telah engkau pakai lalu ia menjadi rosak dan apa yang telah engkau sedekahkan lalu engkau berlalu pergi.”

Dan firman Allah yang mengatakan:

حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ۝

Ibnul Qoyyim berkata: Allah swt telah memberitahu bahawa ahli dunia sentiasa sibuk (mencari harta benda dan kekayaan duniawi), serta melalaikan diri dari Allah dan urusan hari Akhirat, sehinggalah datangnya kematian kepada mereka, lalu mereka menziarahi kuburan.

Tujuan dari menziarahi kubur itu bukan kematian, sebagai memberi peringatan bahawa mereka tidak akan kekal selama-lamanya di dalam kubur. Mereka berada dalam posisi orang yang berziarah- datang mengunjungi satu tempat kemudian meninggalkannya, sepertimana yang berlaku di dunia.. tempat tinggal yang kekal adalah antara syurga dan neraka.

Dan firman Allah swt yang mengatakan:

كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ ۝ ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ۝

Maksudnya adalah janganlah urusan memperbanyak harta tersebut melalaikanmu dari mentaati Allah, dan kalian pasti akan mengetahui akibat kelalaian kalian akibat berlumba-lumba dalam mengumpulkan dunia. Kalimat yang sama diulang-ulangi untuk memperkuatkan penegasan.

Dan firman Allah swt yang mengatakan:

كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ۝

Maksudanya seandainya engkau mengetahui apa yang akan terjadi di hadapan kalian dengan pengetahuan yang terhunjam di dalam akal dan hati kalian nescaya tidak mungkin bagi kalian dilalaikan oleh bermegah-megah  mengejar dunia ini. Justru kalian akan berlumba-lumba dalam beramal soleh, namun karana kalian tidak mengetahui dengan pengetahuan yang sebenarnya akhirnya kalian terjerumus ke dalam keadaan kalian sekarang ini.

Firman Allah swt:

لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ ۝ ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ۝

Ini adalah sumpah dari Allah Ta’ala bahwa para hambaNya baik yang beriman dan yang kafir akan menyaksikan api neraka dengan mata kepala mereka sendiri, kemudian Allah mempertegaskan realiti tersebut dengan menyatakan berita tersebut pasti dan mesti terjadi, dan mereka akan melihat neraka dengan sebenarnya sehingga saat itulah mereka benar-benar yakin dengannya dan tidak meragukannya lagi.Akan tetapi Allah akan menyelamatkan orang-orang yang beriman dari kepdihan siksanya dan Allah swt menjadikan orang-orng beriman melihat neraka tersebut agar mereka mengetahui kurniaan Allah yang telah menyelamatkan mereka dari azab nereaka.

Kemudian firman Allah yang mengatakan:

ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ ۝

Maksudnya adalah Allah akan bertanya kepada kalian pada hari kiamat tentang nikmat-nikmat yang telah dikaruniakannya kepada  kalian, seperti rasa aman, kesehatan, diberikan pendengaran dan penglihatan serta afiat dan apa yang makan oleh manusia juga apa yang diminumnya, apakah kalian telah mensyukurinya dan menunaikan hak Allah padanya, dan tidak menjadikan kenimatan tersebut sebagai sarana untuk bermaksiat kepada  Allah atau kalian  terpedaya dengan nikmat tersebut dan tidak mensyukurinya sehingga Allah mengazab kalian dengannya.

 

  1. Munasabah Ayat

Pada ayat yang pertama dijelaskan betapa kemegahan dapat melalaikan manusia pada urusan beribadah kepada Allah. Hal itu terjadi hingga yang bersangkutan meninggal (masuk ke dalam kubur). Ibnu Katsir berkata, “Allah SWT menegaskan bahwa cinta dunia, kenikmatan yang ada padanya dan kemegahannya telah menyibukkan kalian dari berusaha menggapai bekal di akhirat. Dunia itu begitu melalaikan kalian sehingga maut menjemput kalian lalu engkau berada dalam liang kubur dan menjadi penghuninya”[1].

Pada ayat selanjutnya terdapat redaksi “kelak kamu akan mengetahui”. Hal ini mengindikasikan bahwa setelah mati kita nantinya kan diperlihatkan kembali apa yang kita lakukan selama di dunia.

Masih ada perdebatan mengenai kebangkitan manusia setelah mati nanti, apakah memang jasad kita nantinya benar-benar dibangkitkan lagi, ataukah hanya ruhnya saja? Bahkan kaum kafir dulu menyebut ini (kebangkitan setelah mati) hanya sebagai tipuan sihir saja. Sebagaimana yang terdapat pada Alquran,

وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلا وَلَئِنْ قُلْتَ إِنَّكُمْ مَبْعُوثُونَ مِنْ بَعْدِ الْمَوْتِ لَيَقُولَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ هَذَا إِلا سِحْرٌ مُبِينٌ۝[2]

“Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah ‘Arsy-Nya di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya, dan jika kamu berkata (kepada penduduk Makkah): “Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan sesudah mati”, maka niscaya orang-orang kafir itu akan berkata: “Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata.”

Lafadz “’Arsy-Nya adalah di atas air” menurut mujahid adalah maksudnya sebelum Allah menciptakan segala sesuatu.[3]

Pada ayat lain juga disebutkan betapa kerasnya kaum kafir menyangkal tentang adanya kebangkitan ini, seperti yang tertera dalam Alquran,

قَالُوا أَئِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا وَعِظَامًا أَئِنَّا لَمَبْعُوثُونَ۝ لَقَدْ وُعِدْنَا نَحْنُ وَآبَاؤُنَا هَذَا مِنْ قَبْلُ إِنْ هَذَا إِلا أَسَاطِيرُ الأوَّلِينَ ۝[4]

“Mereka berkata: apakah betul, apabila kami telah mati dan kami telah menjadi tulang-belulang, apakah sesungguhnya kami benar-benar akan dibangkitkan?(82) Sesungguhnya kami dan bapak-bapak kami telah diberi ancaman terlebih dahulu, ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu kala(83)”

Padahal pada kelanjutan Q.S At-Takatsur telah ditegaskan berkali-kali bahwa nantinya kita semua akan benar-benar diperlihatkan segala yang kita perbuat dan akan menerima balasannya, entah itu di neraka atau di surga.

 

 

PEMBAHASAN 2

  1. Ayat

Q.S. Al-Waqi’ah ayat 1-10

إِذَا وَقَعَتِ الْوَاقِعَةُ۝ لَيْسَ لِوَقْعَتِهَا كَاذِبَةٌ۝ خَافِضَةٌ رَافِعَةٌ ۝ إِذَا رُجَّتِ الأرْضُ رَجًّا۝ وَبُسَّتِ الْجِبَالُ بَسًّا۝

 فَكَانَتْ هَبَاءً مُنْبَثًّا۝ وَكُنْتُمْ أَزْوَاجًا ثَلاثَةً۝ فَأَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ مَا أَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ۝ وَأَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ مَا أَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ۝ وَالسَّابِقُونَ السَّابِقُونَ۝

  1. Terjemah
    1. Apabila terjadi Kiamat
    2. Terjadinya tidak dapat didustakan (disangkal)
    3. (Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain)
    4. Apabila bumi digoncangkan sedahsyat-dahsyatnya,
    5. Dan gunung-gunung dihancurkanluluhkan sehancur-hancurnya,
    6. Maka jadilah ia debu yang beterbangan,
    7. Dan kamu menjadi tiga golongan,
    8. Yaitu golongan kanan, alangkah mulianya golongan kanan itu,
    9. Dan golongan kiri, alangkah sengsaranya golongan kiri itu,
    10. Dan orang-orang yang paling dahulu (beriman) merekalah yang paling dahulu (masuk surga)

 

  1. Mufradat

الْوَاقِعَةُ                = Hari Kiamat

كَاذِبَةٌ                  = didustakan, dipungkiri, disangkal

خَافِضَةٌ               = merendahkan

رَافِعَةٌ                 = meninggikan

رُجَّتِ                 = digoyangkan

هَبَاءً                   = debu

أَزْوَاجًا                = golongan

الْمَيْمَنَةِ                = golongan kanan

الْمَشْأَمَةِ               = golongan kiri

وَالسَّابِقُونَ            = orang yang terlebih dahulu iman

 

  1. Sabab Nuzul

Tidak ditemukan sabab nuzul pada pembahasan ini.

 

  1. Tafsir ayat

Ayat pertama dan kedua menerangkan bahwa apabila terjadi Hari Kiamat, maka kejadian itu tidak dapat didustakan dan juga tidak dapat diragukan. Apabila terjadi atau datang Hari Kiamat itu, tidak seorang pun dapat mendustakannya atau mengingkarinya dan nyata dilihat oleh setiap orang. Tatkala di dunia, banyak benar manusia yang mendustakannya dan mengingkarinya karena belum merasakan azab sengsara yang telah diderita oleh orang-orang yang telah disiksa itu.

Ayat selanjutnya menjelaskan bahwa kejadian itu akan merendahkan satu golongan dan meninggikan golongan yang lain, demikian kata Ibnu Abbas. Karena kejadian yang besar pengaruhnya membawa perubahan yang besar pula. Kemudian diterangkan-Nya bahwa Hari Kiamat itu menurunkan derajat golongan yang satu dan meninggikan golongan yang lain. Tatkala itu, ada gempa yang menghancurkan semua yang ada di atasnya, gunung-gunung dan bangunan-bangunan hancur lebur seperti debu yang beterbangan di udara. Manusia ketika itu terbagi atas tiga golongan yaitu golongan kanan (Ashabul Yamin) , golongan kiri (Ashabusysyimal) , dan golongan orang terdahulu beriman (Assabiqun) .

Ayat selanjutnya menjelaskan bahwa pada Hari Kiamat itu, nanti akan timbul gempa bumi yang sangat dahsyat dengan guncangan-guncangan yang hebat di segenap pelosok bumi, menghancurkan benteng-benteng dan gunung-gunung, menumbangkan rumah-rumah dan bangunan-bangunan, serta apa saja yang terdapat di permukaan bumi.
Dalam ayat yang lain yang sama artinya Allah berfirman:

إذا زلزلت الأرض زلزالها۝[5]

“Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan (yang dahsyat).”

dan firman Nya:

يا أيها الناس اتقوا ربكم إن زلزلة الساعة شيء عظيم۝[6]

“Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu; sesungguhnya kegoncangan Hari Kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat).”

Ayat selanjutnya mengungkapkan bahwa pada hari ini gunung-gunung dihancur luluhkam sehancur-hancurnya menjadi tumpukan tanah yang bercerai berai setelah ia tegak menjulang tinggi, menjadi debu yang beterbangan seperti daun kering yang diterbangkan angin. Ringkasnya, gunung-gunung akan hilang dari tempatnya.

Ayat selanjutnya menjelaskan bahwa manusia pada waktu itu terdiri atas golongam-golongan, yaitu-golongan kanan, golongan kiri, dan golongan orang-orang yang paling dahulu beriman.

Ayat selanjutnya menjelaskan bahwa “Golongan kanan” adalah orang-orang yang menerima buku-buku catatan amal mereka dengan tangan kanan yang menunjukkan bahwa mereka adalah ahli surga. Tentulah keadaan mereka sangat baik dan sangat menyenangkan. Dan “Golongan Kiri” ialah orang-orang yang menerima buku catatan amal mereka dengan tangan kiri yang menunjukkan bahwa mereka adalah ahli neraka dan akan mendapat siksa dan hukuman yang sangat menyedihkan.
Berkenaan dengan ayat ini Muaz bin Jabal meriwayatkan:

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم تلا هذه الآية ثم قبض بيده قبضتين وقال: هذه في الجنة ولا أبالي وهذه في النار ولا أبالي

“Nabi besar Muhammad saw, tatkala membaca ayat di atas, beliau menggenggam ke dua belah tangannya lalu berkata, “Ini (yang digenggam dengan tangan kanan beliau) adalah ahli surga dan tidak perlu aku memperhatikan (yang digenggam dengan tangan kiri beliau) ini adalah ahli neraka dan tidak perlu aku memperhatikan”.
(H.R. Ahmad dari Mu’az bin Jabal)

Ayat selanjutnya menjelaskan bahwa orang-orang yang paling dahulu beriman kepada Allah SWT, tidak asing lagi bagi kita pribadi dan kebesarannya serta perbuatan-perbuatan mereka mengagumkan. Dapat pula diartikan bahwa orang orang yang paling dahulu mematuhi perintah Allah, mereka pulalah yang paling dahulu menerima rahmat Allah.

Barang siapa yang terdahulu membuat kebaikan di dunia ini, maka ia adalah orang yang terdahulu pula mendapat ganjaran di akhirat nanti. Ayat ini menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “Assabiqun”, ialah mereka yang disebut dalam hadis Siti Aisyah sebagai berikut:

عن عائشة رضي الله عنها: أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: أتدرون من السابقون إلى ظل الله يوم القيامة؟ قالوا: الله ورسوله أعلم قال: الذين إذا أُعْطُوا الحق قبلوه وإذا سُئِلُوه بذلوه وحكموا للناس كحكمهم لأنفسهم

“Nabi besar Muhammad saw telah bersabda: “Apakah kamu sekalian tahu siapa yang paling dahulu mendapat rahmat dari Allah pada Hari Kiamat nanti?” Mereka (para sahabat) berkata: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”. Rasulullah bersabda: “Mereka itu adalah orang yang apabila diberi haknya lalu menerimanya dan apabila diminta orang diberikannya. Apabila menjatuhkan hukuman terhadap orang lain sama seperti mereka menjatuhkan hukuman terhadap diri mereka sendiri”.
(H.R. Ahmad)

Di samping itu ada pendapat-pendapat lain di antaranya beriman paling dahulu kepada Allah, paling dahulu mematuhi perintah Allah dan lain-lain.

 

  1. Munasabah Ayat

Pada surat ini diawali dengan datangnya Hari Kiamat. Kembali lagi ditegaskan bahwa kehidupan di dunia ini tidaklah kekal dan pasti akan kehancuran yang ditandai dengan datangnya Hari Kiamat. Hari Kiamat tidak dapat dihindari dan tidak dapat diduga kapan terjadi.

Dengan datangnya Hari Kiamat tersebut, maka akan terlihat siapa yang berbuat baik selama di dunia (dengan arti ia ditinggikan sebab perbuatan baiknya) dan siapa yang berbuat jahat (direndahkan karena perbuatan jahatnya).

Pada ayat-ayat selanjutnya digambarkan sedikit mengenai peristiwa Hari Kiamat. Bagaimana bumi digoyang-goyangkan dengan kekuatan yang paling dahsyat dan gunung-gunung yang dilumat habis.

Selanjutkan setelah itu akan terjadi kebangkitan, menyebabkan manusia di alalm akhirat nanti terbagi menjadi tiga golongan. Yang pertama adalah golongan kanan, artinya adalah orang tersebut mempunyai catatan amal yang bagus selama di dunia sehingga saat ia menerima ‘buku rapor’ di akhirat kelak ia menerimanya dengan tangan kanan. Balasan baginya adalah surga.

Selanjutnya adalah golongan kiri. Yaitu golongan yang mempunyai catatan amal perbuatan yang buruk sehingga ia menerima transkip perbuatannya selama di dunia dengan tangan kiri. Balasan bagi golongan kiri adalah kesengsaraan (neraka). Dan yang terakhir adalah orang-orang terdahulu yang beriman kepada Allah.

 

 

PEMBAHASAN 3

  1. Ayat

الْقَارِعَةُ ۝  مَا الْقَارِعَةُ۝ وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْقَارِعَةُ۝يَوْمَ يَكُونُ النَّاسُ كَالْفَرَاشِ الْمَبْثُوثِ۝  وَتَكُونُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِ الْمَنْفُوشِ۝ فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ۝ فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ۝ وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ۝ فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ۝ وَمَا أَدْرَاكَ مَا هِيَهْ۝ نَارٌ حَامِيَةٌ۝

  1. Terjemah
    1. Hari Kiamat
    2. Apakah Hari Kiamat itu?
    3. Dan tahukah kamu apakah Hari Kiamat itu?
    4. Pada hari itu manusia seperti laron yang beterbangan
    5. Dan gunung-gunung seperti bulu-bulu yang dihambur-hamburkan
    6. Maka adapun orang yang berat timbangan (kebaikan)nya
    7. Maka ia berada dalam kehidupan yang memuaskan
    8. Dan adapun orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya
    9. Maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah
    10. Dan tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu?
    11. (Yaitu) api yang sangat panas.

 

  1. Mufradat

الْقَارِعَةُ        = Hari Kiamat

الْفَرَاشِ         = laron

الْمَبْثُوثِ        = beterbangan

الْعِهْنِ           = bulu-bulu

الْمَنْفُوشِ      = berhamburan

ثَقُلَتْ            = berat

مَوَازِينُ        = timbangan

عِيشَةٍ          = berada

رَاضِيَةٍ        = hidup yang memuaskan

خَفَّتْ           = ringan

فَأُمُّهُ            = tempat kembalinya

هَاوِيَةٌ          = neraka Hawiyah

 

  1. Sabab Nuzul

Tidak ditemukan sabab nuzul dalam pembahasan ini.

 

  1. Tafsir Ayat

Dalam ayat pertama Allah menyebutkan kata “Al Qari’ah”, yaitu satu nama dari beberapa nama Hari Kiamat, seperti Al Haqqah, As Sakhkhah, At Tammmah dan Al Gasyiah. Diberi nama Hari Kiamat itu dengan Al Qari’ah karena ia mengetuk hati setiap orang akan kedahsyatannya, sebagaimana diberi nama suatu bencana hebat dengan Qari’ah. Dalam ayat yang sama artinya Allah berfirman:

ولا يزال الذين كفروا تصيبهم بما صنعوا قارعة۝[7]

“Dan orang-orang kafir senantiasa ditimpa bencana disebabkan perbuatan mereka sendiri.”

Maksudnya mereka ditimpa malapetaka hebat yang mengetuk hati mereka dan menyakiti tubuh mereka, sehingga mereka mengeluh karenanya.

Oleh karena sangat sulit mengetahui hakikat Al Qari’ah, maka dalam ayat keempat ini Allah menjelaskan waktu datangnya Al Qari’ah dan keadaan manusia pada waktu itu, yaitu bagaikan anai-anai yang berterbangan di sekeliling lampu pada malam hari; diserupakan dengan anai-anai dalam keadaan mereka kebingungan tidak menentu arah tujuannya.
Maksudnya bahwa manusia pada hari yang dahsyat itu bertebaran di mana-mana, bingung, tidak tahu ke mana akan dituju dan apa yang akan dikerjakan dan untuk apa mereka dikumpulkan di sana, tidak ubahnya seperti anai-anai yang tidak berketentuan arahnya.
Dalam ayat lain yang sama maksudnya Allah berfirman:

كانهم جراد منتشر۝[8]

“Seakan-akan mereka belalang yang berterbangan.”

Dalam ayat kelima Allah mengungkapkan bahwa gunung-gunung yang telah hancur itu beterbangan dari tempatnya seperti bulu yang halus yang diterbangkan angin, bagaimana pula keadaan manusia yang mempunyai tubuh yang lemah itu bila mengalami Al Qari’ah itu.

Banyak terdapat dalam Alquran ayat-ayat tentang keadaan gunung-gunung pada Hari Kiamat, di antaranya Allah berfirman:

وترى الجبال تحسبها جامدة وهي تمرمر السحاب۝[9]

Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan.”

dan firman-Nya:

وكانت الجبال كثيبا مهيلا۝[10]

“Dan jadilah gunung-gunung itu tumpukan-tumpukan pasir yang beterbangan.”

Dan firman-Nya:

وسيرت الجبال فكانت سرابا۝[11]

“Dan dijalankanlah gunung-gunung maka menjadi fatamorganalah ia.”

Semua keterangan tersebut untuk menjelaskan bahwa gunung-gunung yang besar dan kuat seharusnya tetap tak dapat digerakkan, tetapi Al Qari’ah dapat menghancurkannya, apalagi manusia makhluk yang lemah.

Dalam ayat 6-7, Allah menjelaskan ganjaran bagi orang-orang yang banyak melakukan amal kebaikan, yaitu bila amal orang-orang yang saleh itu ditimbang dan timbangannya berat karena banyaknya mengerjakan amal-amal saleh. Ganjaran bagi orang-orang ini adalah kesenangan yang abadi di surga. Mereka hidup di dalamnya penuh dengan kebahagiaan, kenikmatan dan kepuasan. Kita wajib mempercayai adanya mizan (neraca) yang tersebut pada ayat ini dan dalam firman-Nya:

ونضع الموازين القسط ليوم القيامة۝[12]

“Kami akan memasang timbangan yang tepat pada Hari Kiamat.”

Dalam ayat-ayat selanjutnya, Ia menyatakan pula nasib orang-orang jahat yaitu bila amal orang-orang jahat itu ditimbang dan timbangannya itu ringan karena banyak mengerjakan kejahatan dan sedikit mengerjakan kebaikan di dunia maka mereka akan ditempatkan dalam neraka Hawiyah tempat penyiksaan orang-orang jahat, tempat hidup sengsara; suatu tempat yang mereka dijerumuskan ke dalamnya.

 

  1. Munasabah Ayat

Pada ayat pertama tersebut sebuah nama julukan lain dari hari Kiamat, yaitu Al-Qari’ah. Hal itu terus disebutkan berulang-ulang hingga ayat ketiga. Baru pada ayat keempat dijelaskan bagaimana hari Kiamat nantinya. Dijelaskan seperti apa keadaan dunia ini.

Ayat keenam dan ketujuh membahas bagaimana orang yang berbuat baik mendapatkan balasan atas apa yang ia kerjakan selama hidupnya. Sedangkan ayat kedelapan dan seterusnya membahas bagaimana orang yang berbuat buruk mendapatkan balasan atas apa yang ia kerjakan selama hidupnya, yaitu dimasukkan ke neraka Hawiyah.


[2] Al-Qur’an dan Terjemahnya, Q.S Huud : 7

[3] Al-Imam Abdul Fida Isma’il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi, Tafsir Ibnu Katsir, (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2004)

[4] Al-Qur’an dan Terjemahnya, Q.S Al-Mu’minuun : 82-83

[5] Al-Qur’an dan Terjemahnya, Q.S Al-Zalzalah : 1

[6] Al-Qur’an dan Terjemahnya, Q.S Al-Hijr : 1

[7] Al-Qur’an dan Terjemahnya, Q.S. Ar-Ra’d : 31

[8] Al-Qur’an dan Terjemahnya, Q.S. Al-Qamar : 7

[9] Al-Qur’an dan Terjemahnya, Q.S An-Naml : 99

[10] Al-Qur’an dan Terjemahnya, Q.S Al-Muzammil : 14

[11] Al-Qur’an dan Terjemahnya, Q.S An-Naba’ : 20

[12] Al-Qur’an dan Terjemahnya, Q.S Al-Anbiya’ : 47