SEJARAH PERKEMBANGAN ILMU

Standar

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.    Latar Belakang Masalah

Ilmu pengetahuan bermula dari rasa ingin tahu, yang merupakan ciri khas manusia. Manusia mempunyai rasa  ingin tahu tentang benda-benda disekitarnya, seperti bulan, bintang, dan matahari. Bahkan ingin tahu tentang dirinya sendiri.

Ilmu pengetahuan merupakan pencarian makna praktis, yaitu penjelasan yang bisa dimanfaatkan. Penjelasan ini telah menjadi dasar ilmu pengetahuan manusia dari zaman pra-sejarah hingga awal abad ke-20.

Ilmu pengetahuan abad ke-20 telah mengubah segalanya,  kemajuan- kemajuan serupa itu sebenarnya telah terjadi di masa-masa sebelumnya. Salah satunya terjadi kira-kira tahun 2500 SM, ketika ”Stonehenge’’ didirikan di Inggris dan ‘’Piramida’’ dibangun di Mesir. Kedua monument ini menyatukan gagasan astronomis dan religius yang kecanggihannya tidak sepenuhnya di ketahui hingga abad ini. Penyelidikan mendalam tentang Stonehenge dan piramida-piramida tersebut mengungkap pengetahuan matematika yang mengejutkan. Orang yang membangun kedua monumen ini telah memahami istilah-istilah praktis yang paling sederhana tentang hubungan antara dua sisi tegak dengan sisi miring dari segitiga siki-siku yang tertentu. Dengan kata lain mereka telah memahami dasar dari apa yang kita  kenal sebagai dalil Pythagoras sekitar 2000 tahun sebelum Pythagoras lahir.

Sejarah perkembangan ilmu pengetahuan lainnya juga mengungkapkan tentang peranan dunia islam di dalamnya. Sekitar abad ke 7 M. pada zaman Bani Umayyah, orang islam menemukan cara pengamatan astronomi. Kemudian pada tahun 825 M. M. AL-khawarizmi telah menyusun  buku aljabar yang menjadi buku standar beberapa abad lamanya di Eropa.

 
   

 

 

  1. B.     Permasalahan
    1. Bagaimana periodisasi perkembangan ilmu?
    2. Siapakah tokoh-tokohnya?
  2. C.    Tujuan
    1. Mengetahui periodisasi perkembangan ilmu.
    2. Mengenal tokoh-tokohnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PERKEMBANGAN ILMU

  1. A.    Deskripsi

Pada bab kedua ini, akan dibahas mengenai sejarah perkembangan ilmu mulai dari zaman pra Yunani kuno sampai zaman kontemporer yang mana dalam pembahasan ini akan disajikan secara beruntut. Apabila materi ini dibahas secara general atau secara umum, perkembangan ilmu dimulai pada masa pra Yunani kuno yakni perpindahan pola pikir manusia dari mitosentris menjadi logosentris. Adapun mitosentris berarti pola pikir yang digunakan oleh masyarakat yang mengacu mitos dalam menjelaskan fenomena alam, sedangkan logosentris adalah kebalikan dari mitosentris.[1] Perubahan dalam pola pikir tersebut berawal sejak diperkenalkannya filsafat kepada masyarakat, sehingga masyarakat mulai menjadikan alam ini sebagai objek penelitian dan pengkajian.

Awal mula munculnya ilmu pada zaman klasik ditandai dengan adanya ilmu ukur dengan ilmu hitung. Keduanya menjadi cabang paling kuno dari ilmu-ilmu pasti. Sejak awal adanya ilmu direncanakan menjadi suatu sistem ketat dan konsekuen berdasarkan patokan-patokan yang ditentukan serta anggapan-anggapan yang paling sederhana. Setelah sekian lama berkembang muncullah ilmu ukur planimetri dan stereometri dengan dalil-dalil yang dapat dibuktikan berdasarkan beberapa paham dasar, seperti garis lurus, bidang, titik, beberapa aksioma atau postulata yang memakai beberapa patokan agar dapat dibuktikan dalil-dalil itu secara deduktif.[2]

  1. B.     Periodesasi Perkembangan ilmu
    1. Masa Pra Yunani Kuno (abad ke-15-7 SM)

Pada masa ini, manusia belum mengenal peralatan yang dipakai selama ini. Saat itu, manusia masih menggunakan batu sebagai peralatan. Pada masa ini pula dapat diketahui bentuk peradaban manusia masa ini, seperti kapak lonjong, sebagai alat pemotong lalu ada pula alat yang terbuat dari tulang menyerupai jarum yang digunakan untuk menjahit. Dalam perkembangannya manusia selalu menyeleksi alat-alat yang digunakan sebagai peralatan melalui proses trial and error atau uji coba. Sehingga, dengan ini manusia dapat menemukan peralatan yang dianggap baik untuk digunakan.[3]

Lalu antara abad ke-15-6 SM, telah ditemukan besi, tembaga dan perak berfungsi untuk peralatan tertentu. Peralatan besi dipergunakan pertama kali di Irak pada abad ke-15 SM. Selanjutnya perlatan perunggu dibuat di Mesir pada abad ke-17 SM, sehingga memberikan pengaruh terhadap perkembangan penerapan teknik di Eropa. Selain itu peralatan ini dibuat di Cina, pada abad ke-15 SM pada masa dinasti Shang sedangkan peralatan besi dikenal pula di Cina sebagai perangkat perang pada abad ke-5 SM pada masa dinasti Chin. Lalu India juga memberikan sumbangsih pada perkembangan ilmu matematika dengan penemuan sistem bilangan decimal. Pada masa Raja Asoka, sang raja telah menyumbangkan sistem bilangan yang menjadi titik tolak perkembangan system bilangan pada zaman modern.

  1. Masa Yunani Kuno (abad ke-7-2 SM)

Pada masa ini disebut juga sebagai masa keemasan filsafat, karena yunani sebagai gudang ilmu dan filsafat. Bangsa Yunanipun mengembangkan sikap an inquiring attitude (senang menyelidiki sesuatu secara kritis), dari sinilah tampil tokoh-tokohnya yang terkenal sepanjang masa. Seperti Thales, Phytagoras, Socrates, Democritus, Plato dan Aristoteles.

a)      Thales

Menurut Thales alam semesta berasal dari air karena tiada kehidupan tanpa air. Mengapa demikian? Karena terdapat tiga alasan munculnya persoalan tentang alam semesta ini. Pertama, adanya sebuah persoalan yang berlangsung terus menerus serta dipandangnya sebagai persoalan abadi (perennial problems) atau disebut pula pertanyaan yang signifikan (a significant question). Kedua, dari pertanyaan tersebut timbul konsep baru “suatu hal tidak begitu saja ada, melainkan terjadi dari sesuatu”. Dari sini timbullah konsep tentang perkembangan evolution and genesis. Ketiga, pertanyaan ini hanya dapat diajukan oleh kalangan intelektual bukan kalangan awam.

b)      Pythagoras

Ia dikenal sebagai filsuf dan ahli ilmu ukur, menurutnya bumi itu bundar dan tidak datar. Adapun penemuannya adalah hokum atau dalil Pythagoras yang berlaku bagi segitiga siku-siku, dengan jumlah sudut dari segitiga tersebut sama dengan 1800, teori pembagian antara bilangan genap dan bilangan ganjil, pembentukan benda berdasarkan persegi dan hubungan antara nada dengan panjang dawai.

c)      Sokrates

Tokoh ini dapat dikenal pemikirannya dalam dialog-dialog yang ditulis oleh muridnya sendiri, Plato. Perlu diketahui bahwa metode yang dikembangkannya dikenal sebagai Maieutike Tekhne (ilmu kebidanan), maksudnya adalah sebuah metode dialektika untuk melahirkan kebenaran. Untuk mengaplikasikan metodenya dalam kehidupan sehari-hari, ia selalu melakukan diskusi dengan orang yang dipandangnya memiliki otoritas keilmuan dalam bidangnya.

d)     Demokritus

Tokoh ini dikenal sebagai bapak atom yang pertama karena ia memperkenalkan konsep atom. Ia menjelaskan bahwa alam semesta ini sesungguhnya terdiri dari atom-atom. Maksud dari atom adalah materi terkecil yang tidak dapat dibagi-bagi lagi. Bentuk atom bermacam-macam dan benda-benda it uterus menerus bergerak tanpa ada ketentuan. Gerak tersebut menimbulkan benturan, sehingga terjadilah pusaran-pusaran pergerakan seperti gerak pusaran air. Berdasarkan pusaran tersebut maka terjelmalah beraneka ragam benda, diluar benda-benda tiada sesuatu kecuali kehampaan. Adapun pemikirannya tentang atom sebagai berikut :

v  Konsep materialitis-monistik, maksudnya atom merupakan sekedar materi (matter) yang tidak didampingi apa pun, karena sekelilingnya hampa[4]. Adapun materi tersebut adalah satu-satunya yang ada dan membentuk segala-galanya.

v  Konsep dinamika perkembangan (developmental dynamics), maksudnya segala sesuatu selalu berada dalam keadaan bergerak, sehingga berlakulah prinsip dinamika. Berdasarkan prinsip tersebut tersusunlah segala sesuatu di dunia[5].

v  Konsep yang bersifat murni alamiah (pure natural). Maksudnya, pergerakan atom tersebut besifat intrinsic, primer, tanpa sebab, tidak dipengaruhi oleh sesuatu di luar dirinya.

v  Bersifat kebetulan (by chance). Maksudnya, pergerakan itu terjadi tanpa tujuan, sehingga benturan-benturan yang terjadi tidak beraturan, dan tidak mengandung tujuan-tujuan tertentu.[6]

e)      Plato

Tokoh ini bertitik tolak dari polemic Parmenides dan Heraklitos. Parminides menganggap bahwa realitas itu berasal dari hal satu (the one), yang tetap, tidak berubah ; sedangka Heraklitus bertitik tolak dari hal banyak (the many), yang selalu berubah. Plato memadukan kedua pandangan tersebut dan menyatakan bahwa yang serba berubah itu dikenal oleh pengamatan. Sedangkan, yang tidak berubah dikenal oleh akal. Hal yang tetap, yang tidak berubah, yang kekal itu oleh Plato disebut dengan ide[7].

f)       Aristoteles

Ia adalah murid Plato dan penasihat serta guru Iskandar Agung sekaligus orang yang menolak pemikiran Plato. Ajaran Aristoteles paling tidak dapat diklasifikasi dalam tiga bidang yaitu : metafisika, logika, dan biologi.

  1. Masa Pertengahan (abad ke-2-14 M)

Pada masa ini, banyak para ilmuan yang berasal dari para teolog yang mengaitkan antara aktifitas ilmiah dengan aktifitas keagamaan. Adapun semboyan yang digunakan pada masa ini adalah Ancilla Theologi yang berarti  abdi agama.

Peradaban Islam pun turut menyumbangkan partisipasinya, terutama pada zaman Bani Umayah. Sebagai contoh dapat ditemukan seperti buku al Jabar karangan al Khawarizmi pada tahun 825 M. lalu ditemukan juga persamaan pangkat tiga oleh Umar Khayyam, pemecahan tersebut berdasarkan planimetri dan potongan-potongan krucut.

Sekitar tahun 600-700 M obor kemajuan ilmu pengetahuan berada pada peradaban islam. Seperti al Razi dan Ibnu Sina dalam ilmu kedokteran. Mereka berdua masing-masing mengarang buku dengan judul Continens dan al Qanun. Lalu al Idrisi telah membuat 70 peta dari daerah yang dikenal pada masa itu, agar dapat disampaikan kepada raja Roger 2 dari Sicilia. Pada masa itu pula istilah Zenith, Nadir, Azimuth sudah terkenal. Selain itu, angka yang digunakan berasal dari India dapat dimasukkan ke Eropa melalui orang-orang Arab.

Pada masa ini pula, banyak tokoh ilmuwan muslim yang lahir telah mengungkapkan teorinya mengenai astronomi jauh sebelum adanya teori yang diterapkan oleh Galelio Galilei dan Nicolaus Copernicus. Dan, pada bidang arsitek terdapat salah seorang arsitek islam ternama yang merancang pembangunan istana Raja di laut utara Beijing yakni Ikhtiyar Al-Din[8].

Pada masa ini pula tidak hanya kalangan islam saja yang memberikan sumbangsihnya kepada dunia keilmuan, akan tetapi kaum non muslim pun turut memberikannya seperti Maimonedes atau Musa bin Mahmud dari kalangan Yahudi di Spanyol pada akhir abad ke-12. Lalu, dari kalangan Kristen yakni Albertus Agung serta Thomas Aquinas di pusat-pusat intelektual Eropa Barat selama abad ke-13.[9]

  1. Masa Renaissance (14-17 M)

Pada masa ini, kebangkitan kaum ilmuwan ditandai dengan pemikiran mereka yang terbebas dari dogma-dogma agama terutama dogma Gereja. Adapun maksud dari Renaissance sendiri adalah suatu zaman yang beralih dari abad tengah menjadi suatu kebudayaan modern.

Perlu diketahui bahwa manusia pada zaman ini disebut dengan animal rationale. Hal ini dikarenakan oleh pemikiran manusia yang mulai bebas dan berkembang. Berdasarkan paham mereka bahwa keberhasilan manusia didasarkan pada hasil usaha mereka sendiri dan tidak ada campur tangan ilahi. Pada masa Renaissance penemuan-penemuan ilmu pengetahuan modern telah dirintis. Ilmu pengetahuan yang maju pada masa ini adalah bidang astronomi. Tokoh-tokohnya seperti Roger Bacon, Nicolaus Copernicus, Tycho Brahe, Johannes Keppler, dan Galileo Galilei.

1)      Roger Bacon

Menurut Bacon, landasan utama bagi awal dan ujian akhir bagi semua ilmu pengetahuan adalah pengalaman (empiric). Selain itu, matematika menjadi syarat mutlak untuk mengolah ilmu pengetahuan. Meskipun ia menganjurkan untuk menjadikan pengalaman sebagai basis ilmu, tetapi ia tidak meninggalkan tulisan atau karya bagi ilmu pengetahuan.

2)      Nicolaus Copernicus

Jika mendengar nama tokoh ini tentunya dapat diketahui bahwa ia mencetuskan sebuah teori yang bernama heliosentris. Maksudnya adalah bumi dan planet-panet lainnya mengelilingi matahari. Adapun matahari berfungsi sebagai tata surya. Tentunya hal ini berlawanan dengan teori yang dikemukakan oleh Ptolomeus dan Hipparchsu yakni geosentris sebagai teori kebalikan dari helosentris.

3)      Tycho Brahe

Tokoh ini terkenal dengan penemuannya dalam bidang astronomi. Ia membuat alat-alat berukruan besar untuk mengamati benda-benda angkasa secara lebih teliti. Pada tahun 1572, Brahe mengamati munculnya bintang baru di gugusan Cassiopeia, yaitu bintang yang cemerlang selama 16 bulan sebelum padam lagi.

4)      Johannes Keppler

Ia adalah ahli matematika sekaligus menjadi asisten Tycho Brahe. Ia melanjutkan penelitian Brahe tentang gerak benda-benda angkasa. Brahe menemukan tiga buah hokum yang melengkapi penyelidikan Brahe sebelumnya, yaitu :

  • Gerak benda angkasa ternyata bukan bergerak mengikuti lintasan cicle. Namun, gerak itu mengikuti lintasan elips.
  • Pada waktu yang sama, maka garis penghubung antara planet dan matahari selalu melintasi bidang yang luasnya sama.
  • Dalam perhitungan matematik terbukti bahwa bila jarak rata-rata dua planet A dan B dengan matahari adalah x dan y, sedangkan waktu untuk melintasi orbit masing-masing adalah p dan q, maka p2 : q2 = x3 : y3.

 

 

5)      Galileo Galilei

Ia menerima prinsip tata surya heliosentris yang dikemukakan oleh Keppler.  I membuat sebuah teropong bintang yang terbesar pada masa itu serta mengamati beberapa peristiwa yang terjadi di angkasa secara langsung. Dalam bidang astronomi, Galileo melihat bahwa planet Venus dan Mercurius menunjukkan berbagai perubahan  seperti halnya bulan, sehingga ia menyimpulkan bahwa planet tidaklah memancarkan cahaya sendiri melainkan memantulkan cahaya dari matahari.

  1. Masa modern

Pada masa ini ditandai dengan berbagai penemuan dalam bidang ilmiah. Adapun perkembangan ilmu pengetahuan pada masa ini telah dirintis pada masa Renaissance. Yang dijadikan basis perkembangan ilomu pengetahuan adalah benua Eropa. Menurut Slamet Iman Santoso perkembangan ilmu pengetahuan mempunyai tiga sumber yaitu:

a)      Adanya hubungan antara kerajaan Islam di Semenanjung Iberia (Spanyol) dengan negara-negara Prancis.

b)      Terjadinya perang Salib (1100-1300) yang terulang sebanyak enam kali.

c)      Peristiwa jatuhnya Konstantinopel pada 1453 M ke tangan Bangsa Turki.

Berdasarkan pemaparan di atas, para pendeta mereka belajar kepada orang Islam, lalu mereka menjadi pionir pengembang ilmu pengetahuan di Eropa. Tokoh dari masa ini adalah Rene Descartes, Isaac Newton, Charles Darwin, J.J. Thompson.

  1. Masa Kontemporer (abad 20-dst)

           Pada masa ini, bidang fisika mendapat kedudukan yang paling tinggi dibandingkan ilmu-ilmu khusus yang dibicarakan oleh para filsuf. Lalu, yang dimaksud dengan zaman kontemporer dalam konteks ini adalah era tahun-tahun terakhir yang kita jalani hingga saat ini. Perbedaan pengamatan tentang ilmu di zaman modern dengan zaman kontemporer adalah perkembangan ilmu pada zaman modern berawal sekitar abad ke 15, sedangkan zaman kontemporer memfokuskan sorotannya pada berbagai perkembangan terakhir yang terjadi hingga saat ini[10].

Tokoh-tokoh ternama pada masa ini adalah Albert Einstein yang terkenal dengan teori relativitasnya. Menurut Einstein, alam tak terhingga besarnya dan tidak berbatas. Akakn tetapi, tidak berubah status totalitasnya atau bersifat statis dari waktu ke waktu. Ia pun percaya akan kekekalan materi. Dari sini pula dapat diketahui bahwa ia pun menolak adanya penciptaan alam. Lalu ada Hubble yang menggunakan teropong bintang terbesar di dunia melihat galaksi-galaksi di sekeliling kita tampak menjauhi galaksi kita dengan kelajuan yang sebanding dengan jaraknya dari bumi. Sehingga, adanya observasi yang dilakukan Hubble menunjukkan bahwa alam semesta tidaklah statis dan alam pun melakukan proses berekspansi.

Hubble juga menolak pendapat Einstein yang meruntuhkan teori kekekalan materi Einstein dan alam semesta statis. Selain itu, terdapat pula tokoh fisikawan kontemporer lainnya yakni Gamow, alpher, dan Herman yang menarik kesimpulan bahwa semua galaksi di dunia jagad raya ini semula bersatu padu dengan galaksi kita kira-kira lima belas miliar tahun yang lalu. Lalu, terjadi dentuman yang besar (big bang) yang terjadi karena seluruh materi kosmos terlempar dengan kecepatan yang sangat tinggi keluar dari keberadaannya dalam volume yang sangat kecil.

 

 

 

 

 

  1. C.    Analisis

Dari pembahasan diatas, ternyata ilmu yang maju begitu pesat seperti saat ini adalah proses dari perjalanannya yang sangat panjang berawal manusia yang tidak tahu apa-apa (primitif) sampai manusia yang genius dan berperadaban (modern).  Perkembangan ilmu sendiri selain dipengaruhi oleh perkembangan zaman, dipengaruhi oleh agama dan budaya dengan lahirnya para ilmuwan dan cendekiawan yang turut menyumbangkan partisipasinya dalam rangka memajukan ilmu pengetahuan tersebut.

Berdasarkan teori Auguste Comte terdapat hukum tiga tahapan pemikiran yaitu hukum tentang perkembangan intelegensi manusia (The Law Of The Three Stages). Hukum ini tidak hanya berlaku terhadap perkembangan masyarakat, tetapi juga berlaku terhadap perkembangan individu.  Hukum ini merupakan generalisasi dari tiap bagian dari pemikiran manusia yang berkembang semakin maju melalui 3 tahap pemikiran, yaitu The Telogical, or Fictitious; The Metaphysical or Abstract; dan The Scientific, or Positive.

  1. Tahap teologis : tahap ini merupakan tingkat pemikirn manusia yang beranggapan bahwa benda didunia ini mempunnyai jiwa dan itu disebabkan oleh suatu kekuatan yang berada diatas manusia /kekuatan dewa atau gaib.
  2. Tahap metafisis : pada tahap manusia masih percaya bahwa gejala-gejala yang ada didunia ini disebabkan oleh kekuatan hukum alam /supranatural. Ditahap ini merupakan penyederhanaan dari kepercayaan terhadap dewa yang mengatur gejala yang terjadi.
  3. Tahap positivis : tahap dimana manusia sanggup berpikir secara ilmiah, dan ditahap inilah berkembangnya ilmu pengetahuan.[11]

Berdasarkan pemaparan di atas, dapat diketahui bahwa perkembangan ilmu tersebut terjadi karena adanya akselerasi atau percepatan perkembangan ilmu sendiri dan majunya teknologi pada masa-masa sekarang. Selain itu, adanya dukungan masyarakat terhadap kemajuan ilmu ini menjadikan ilmu itu berkembang.  Jika dikembalikan kepada teori Auguste Comte perkembangan ilmu pengetahuan berlangsung secara bertahap mulai dari tahap teologi atau mitos, lalu berlanjut pada tahap metafisika, dan di akhiri dengan tahap positivis atau sains. Oleh karena itu, perkembangan ilmu tidak hanya dilihat dari aspek lahiriah atau  berdasarkan tolak ukur positivis belaka melainkan perlunya keseimbangan kedua aspek tersebut dengan aspek spiritualitas sehingga ilmu itu memiliki tujuan utama untuk membahagiakan umat baik di dunia maupun akhirat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

 

  1. A.    Simpulan

Dari penjelasan di atas, periodesasi dan tokoh dalam perkembangan ilmu dapat disimpulkan sebagai jawaban dari permasalahan berikut:

  1. Periodisasi perkembangan ilmu dimulai dari zaman Pra Yunani Kuno yang mempunyai pola pikir mitosentris atau  terpusat pada mitos. Lalu, ilmu berkembang pada zaman Yunani Kuno ditandai dengan adanya Logosentris atau terpusat pada ilmu yakni adanya filsafat. Selanjutnya, perkembangan ilmu memasuki zaman pertengahan yang menggabungkan antara ilmu dengan agama atau teologi. Setelah itu, perkembangan ilmu memasuki zaman renaissance (pencerahan) ditandai dengan terpisahnya ilmu dengan agama. Selanjutnya, pada zaman modern perkembangan ilmu semakin pesat dengan dilanjutkannya proyek renaissance dengan menitikberatkan ilmu pasti. Dan, pada zaman kontemporer, fisika mendapat kedudukan khusus dibandingkan ilmu-ilmu lain.
  2. Secara ringkas tokoh-tokoh pada periodisasi perkembangan ilmu sebagai berikut :

a)      Zaman pra Yunani kuno tidak ditemukan

b)      Zaman Yunani Kuno antara lain Thales, Phytagoras, Democritus, Socrates, Plato, dan Aristoteles

c)      Zaman Pertengahan antara lain Al Khawarizmi, Al Jabar, Umar Khayyam, Albertus Agung, Thomas Aquinas, Musa bin Maimun, dan lain-lain.

d)     Zaman Renaissance antara lain Galileo Galilei, Nicolaus Copernicus, Tycho Brahe, Roger Bacon, dan Johannes Keppler.

e)      Zaman modern antara lain Rene Descartes, J.J. Thompson, Isaac Newton, dan Charles Darwin.

f)       Zaman Kontemporer antara lain Albert Einstein, Humble, Gamow, Alpher, dan Herman.

  1. B.     Saran
    1. Dengan adanya pembahasan-pembahasan tersebut, semoga dapat menambah pengetahuan tentang perkembangan ilmu dalam filsafat ilmu.
    2. Dan pada akhirnya apabila dalam pembahasan tersebut masih ada kekurangan, diharapkan adanya kritik yang sifatnya membangun, guna memperbaiki pembahasan-pembahasan selanjutnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Bakhtiar, Amsal. 2011. Filsafat Ilmu. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada

M. Siahaan, Hotman. 1986. Pengantar Ke Arah Sejarah Dan Teori Sosiologi. Jakarta : Erlangga

Tim Dosen Filsafat Ilmu (Fakultas Filsafat UGM). 2007. Filsafat Ilmu :sebagai dasar pengembangan ilmu pengetahuan. Yogyakarta: Liberty

Verhaak. C dan R. Haryono Imam. 1995. Filsafat Ilmu Pengetahuan. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama

 


[1] Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu (Jakarta: Rajawali Press) hal. 21

[2] C. Verhaak dan R. Hariono Imam, Filsafat Ilmu Pengetahuan (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama) hal. 83

[3] Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM, Filsafat Ilmu, (Yogyakarta : Liberty), 64

[4] Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM, Filsafat Ilmu, (Yogyakarta : Liberty), hal.69

[5] Ibid

[6] Ibid

[7] Ibid hal 70

[8] Ibid hal 76

[9] C. Verhaak dan R. Hariono Imam, Filsafat Ilmu Pengetahuan (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama), hal. 97

[10] Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu (Jakarta: Rajawali Press) hal. 68

[11] Hotman M. Siahaan, Pengantar Ke Arah Sejarah Dan Teori Sosiologi, (Jakarta : Erlangga, 1986), 106

About these ads

About illosum

seorang anak perantau kelahiran kalimantan barat, yang berusaha mencari ilmu dengan tujuan agar dapat membagun tanah kelahirannya lebih sejahterah dan diperhitungkan oleh negara sendiri maupun negara yang ada di dunia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s